Habis-habisan Dibully, Minat Jadi Banser Malah Tinggi

MAKIN DIMINATI: Diklatsar II Banser GP Ansor Kota Surabaya di Pantai Kenjeran, 2-4 November 2018. | Foto: Barometerjatim.com/NATHA LINTANG
MAKIN DIMINATI: Diklatsar II Banser GP Ansor Kota Surabaya di Pantai Kenjeran, 2-4 November 2018. | Foto: Barometerjatim.com/NATHA LINTANG

SURABAYA, Barometerjatim.com – Pasca insiden pembakaran bendera di Garut, Jawa Barat, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) ‘habis-habisan’ jadi sasaran bully di media sosial (medsos). Namun alih-alih Banser dan Ansor sebagai induk organisasinya melemah, justru semakin kuat!

Terbukti, minat untuk menjadi anggota Banser semakin tinggi. Hal itu berkaca dari peserta Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) II Banser yang diselenggarakan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Surabaya.

“Peserta Diklatsar Banser kali ini ada 200 orang, semuanya ber-KTP Surabaya. Sedangkan Diklatsar sebelumnya jumlah peserta 125 orang, peningkatannya hampir 100 persen,” kata Ketua GP Ansor Kota Surabaya, HM Faridz Afif saat dihubungi, Senin (5/11).

• Baca: Pembakaran Bendera di Garut, Khofifah: Serahkan ke Polisi

Lonjakan peserta Diklatsar ini menurut Afif, “Membuktikan minat pemuda dan pemudi Nahdlatul Ulama (NU) untuk mengabdi sebagai Banser semakin tinggi.”

Afif menambahkan, tingginya minat anak muda Kota Surabaya untuk menjadi Banser juga berkat kiprah nyata Banser di masyarakat selama ini.

Karena itu, kampanye negatif yang menyudutkan Banser dinilai tidak berpengaruh. Faktanya justru makin banyak yang bergabung menjadi Banser.

• Baca: Banser Dukung Fandi Utomo, NU Kian Terseret Politik Praktis

Padahal, kata Afif, para calon peserta Diklatsar membayar dan harus menyiapkan sendiri perlengkapan. Panitia hanya menyiapkan materi pelatihan.

“Mereka ini orang-orang yang ikhlas. Mau gabung Banser rela ikut pelatihan. Padahal Banser tidak ada gajinya, seragam dan sepatu beli pakai uang sendiri. Ini membuktikan menjadi Banser adalah panggilan jiwa,” imbuh Afif.

Keterampilan Khusus

Diklatsar II berlangsung mulai Jumat-Minggu (2-4 November) di area Pantai Kenjeran, Surabaya. Dari total 200 peserta terdapat tujuh peserta perempuan.

Para peserta perempuan secara umum diperlakukan sama dengan peserta pria. Mereka ini nantinya akan bertugas mengawal ibu nyai atau ustadzah.

• Baca: Ketegangan Selesai! Banser-FPI Sepakat #JogoSuroboyo

“Dalam menjalankan tugas, Banser memiliki resiko. Karena itu mereka harus dibekali keterampilan mulai dasar hingga keterampilan khusus,” ujar Afif.

“Banser itu terlatih, kuat secara fisik dan mental. Selain itu wajib disiplin dan loyal pada pimpinan,” imbuh putra politikus senior PKB, Ali Yakub tersebut.

» Baca Berita Terkait Ansor Surabaya, Banser