Selasa, 25 Januari 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

Gus Fahrur: Di NU Tak Harus Mati-matian Pertahankan Jabatan!

Berita Terkait

REGENERASI DI NU BERJALAN: Gus Fahrur (kanan) di acara Gus Yahya, di NU tak harus mati-matian pertahankan jabatan. | Foto: Barometerjatim/IST
REGENERASI: Gus Fahrur (kanan) di acara Gus Yahya, di NU tak harus mati-matian pertahankan jabatan. | Foto: Barometerjatim/IST
- Advertisement -

DR KH AHMAD FAHRUR ROZI termasuk salah seorang kiai yang getol memperjuangkan agar ada regenerasi ketua umum Pengurus Besar Nahdaltul Ulama (PBNU) — jabatan yang dalam dua periode (10 tahun) terakhir diemban KH Said Aqil Siroj.

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Annur 1 Bululawang Malang itu, bahkan secara terbuka dan gencar menyuarakan dukungannya untuk KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Hasilnya, lewat ajang Muktamar ke-34 NU di Lampung, Gus Yahya berhasil mengalahkan petahana Kiai Said.

Mengapa Gus Fahrur sampai berjuang habis-habisan agar ada regenerasi di PBNU, dan apa harapan terbesarnya setelah Gus Yahya terpilih? Kepada Barometerjatim.com, kiai yang juga wakil ketua PWNU Jatim serta ketua Ikatan Gus-Gus (IGGI) itu menuturkannya panjang lebar. Berikut kutipan wawancaranya.

Apa makna kemenangan Gus Yahya?
Ya maknanya adalah regenerasi berjalan dengan baik. Saatnya yang muda tampil ke muka. Kita ini kan punya bonus demografi anak muda yang berlimpah, maka sudah saatnya mereka harus diberi kesempatan dan ini kan memang secara alamiah mesti silih berganti.

Dan terbukti kita mampu mengelola perbedaan itu dengan baik, selesai dengan happy, itu aja, bahwa kita ini rukun lah.

Harapan terbesar setelah Gus Yahya terpilih sebagai ketua umum PBNU?
Saya berharap dia bisa bekerja dengan baik, memajukan pendidikan, kesejahteraan, ekonomi, dan dia harus jadi perekat untuk semua friksi yang membuat kita terpecah, yang sudah ada itu harus disatukan kembali.

Dia kan tagline-nya kan menjadi perdamaian dunia, itu harus dimulai dari perdamaian dengan kawan kita sendiri, he..he.. he

Soal perbedaan dan kritik-kritik sebelum muktamar?
Biasalah, dinamika. Sebelum acara kan biasa ada tabuhan-tabuhan gitu lah, he.. he.. he.

Sebelum muktamar juga sempat ramai soal periode jabatan ketua umum PBNU, apakah memang harus dibatasi dua periode?
Oh ya saya sangat setuju, bahwa harus berdedikasi untuk memberi kesempatan secara bergantian dan semua tidak harus bertahan di satu jabatan.

Bahwa berkhidmat di NU itu bisa dilakukan di luar struktur. Makanya tidak semua harus mempertahakan jabatan mati-matian. Jadi kita semua harus menyadari bahwa jabatan itu akan berputar silih berganti.

Ini harus menjadi tradisi ya, dan itu sudah menjadi kelaziman di era reformasi di seluruh dunia, bahwa pemimpin yang terlalu lama itu tidak akan efektif. Bisa jadi tidak produktif, dan itu akan membuat dia membangun satu kroni yang menjadi kultus, itu menjadi tidak sehat, menjadi sulit dikritik. Jadi dua periode itu sudah cukup.

Dan harus dituangkan di AD/ART NU..
Ya kita usulkan, kita usulkan diajukan di AD/ART.

Apakah batasan dua periode itu juga untuk seluruh badan otonom (Banom)?
Ya, ya, ya, itu menjadi konsen kita semua.

BERSAMA RAIS AAM: DR KH Ahmad Fahrur Rozi alias Gus Fahrur bersama Rais Aam PBNU, KH Miftachul Ackhyar. | Foto: Barometerjatim/IST
BERSAMA RAIS AAM:Gus Fahrur (kanan) bersama Rais Aam PBNU, KH Miftachul Ackhyar. | Foto: Barometerjatim/IST

Bagaimana dengan narasi yang terbangun, bahwa periode jabatan tidak perlu dibatasi karena itu merupakan pengabdian terakhir di NU?
Begini, pengabdiannya itu tidak harus jadi pengurus, dia di luar pengurus pun tetap bisa mengabdi pada NU. Jadi di NU itu tidak dibatasi sebagai pengurus, tapi siapa pun boleh ngurus. Bantulah urusan ekonomi, pendidikan, atau apa.

Itu saya setuju tidak dibatasi berkhidmat di NU. Artinya tidak dibatasi oleh jabatan, seumur hidup dia boleh berbuat baik, jangan terus minta menjabat. Itu justu membatasi dirinya di dalam skup yang kecil.

Itu saya sepakat, pengabdian di NU tidak boleh dibatasi seumur hidup, tidak boleh dibatasi dalam satu jabatan, khidmatnya tetap. Kita ini kalau enggak jadi pengurus pun harus tetap komitmen pada NU, jangan waktu hanya menjabat aja, gitu lho, maknanya begitu.

Jadi tidak boleh dibatasi oleh jabatan. Silakan tetap berkarya untuk NU, Kiai Said tetap akan memberikan pikirannya, ilmunya untuk NU. Itu tidak ada masalah.

Baik. Soal ada yang mempertanyakan pendidikan Gus Yahya yang tak bergelar tinggi secara akademik?
Oh, kepintaran orang itu tidak boleh diukur oleh gelar. orang tidak harus dipintarkan di sekolah, pendidikan ini adalah sekolah kita. Anda lihat Susi (Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI) tamatan SMP yang luar biasa.

Jadi saya tidak setuju kalau kepintaran orang itu dibatasi oleh sekolahnya. Sekolah itu adalah salah satu sarana, tapi dia bisa belajar dalam kehidupan ini, dalam karya-karya dia. Banyak orang-orang hebat yang tidak lahir dari sekolah. Jadi sekolah itu bukan segala-galanya, orang-orang hebat itu tidak sekolah tinggi-tinggi.

Kalau mau jadi rektor ya itu memang harus profesor. Ini pemimpin NU, bukan pemimpin perguruan tinggi, nanti ada ketua bidang perguruan tinggi, gitu lho.

Apakah untuk jadi bupati juga harus dokter, kan enggak usah toh. Tinggal dicarikan dokter untuk kepala rumah sakit. Masak mau bilang wah ini banyak rumah sakit bupatinya bukan dokter, kan ndak perlu toh. Apakah Jokowi (yang tidak bergelar dokter) tidak layak jadi presiden, karena Indonesia ini punya ribuan rumah sakit. Itu logikanya, ini soal kepemimpinan.

Jadi kalau urusan akademik, Gus Yahya tinggal panggil para doktor dan profesor di NU ya..
Tinggal panggil staf ahli, para profesor sesuai bidangnya. Jokowi tidak harus menjadi dokter, pilot, ada yang ngurusi kapal dan lainnya. Dia bukan manusia ajaib, tapi dia menjadi komposer dari semua itu.

» Baca juga Opini Gus Fahrur

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -