Gagal Terbang, Aspidsus Kejati Sulut Ancam Tuntut Lion Air

DIKECEWAKAN LION AIR: Apidsus Kejati Sulawesi Utara, M Rawi (kiri) minta penjelasan atas pelayanan Lion Air yang dinilainya buruk. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR
DIKECEWAKAN LION AIR: Apidsus Kejati Sulawesi Utara, M Rawi (kiri) minta penjelasan atas pelayanan Lion Air yang dinilainya buruk. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR

SURABAYA, Barometerjatim.com – Hari ini, Minggu (11/3), rupanya menjadi hari yang ‘melelahkan’ buat Asisten Pidana Khusus (Asidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Utara, M Rawi. Sudah gagal terbang, masih diancam petugas maskapai penerbangan Lion Air akan dilaporkan ke polisi pula.

Ceritanya, Rawi hendak terbang dari Surabaya menuju Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara, menggunakan Lion Air JT036V dengan jadwal terbang 13.30 WIB. Dari kediamannya di Malang, dia tiba di Terminal 1 Bandara Juanda sekitar pukul 12.00 WIB.

“Saya langsung masuk ruang tunggu dan ternyata delay sampai pukul 14.00 WIB. Saya keluar dulu jalan-jalan. Pas mau terbang, saya masuk ruang tunggu lagi, ternyata delay lagi sampai pukul sampai 14.40 WIB,” katanya saat ditemui di Bandara Juanda.

• Baca: Bikin Malu Institusi, Kasatpol PP Surabaya Minta Maaf

Di sela menunggu, Rawi mengecek jadwal keberangkatan di papan keterangan untuk tujuan Manado. “Saya heran, sudah setengah jam belum juga ada kabar dari pihak maskapai,” katanya.

“Lalu saya tanya petugas Lion yang jaga di pintu, katanya Manado belum. Saya tanya lagi dibilang belum berangkat,” tandas mantan Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Perak tersebut.

Namun setelah menanyakan untuk kali ketiga, petugas mengatakan kalau pesawat tujuan Manado sudah berangkat. “Padahal saat itu tidak ada final call, dan saya duduk dekat pintu akses ke pesawat,” ucapnya.

• Baca: Duh! Ketua DPRD Surabaya dan Kasatpol PP Nyaris Adu Jotos

Masalah datang setelah Rawi bertanya kepada petugas gate Lion laki-laki berinisial I dan supervisior berinisial W. “Dia tidak menghiraukan ketika saya tanya, makanya saya sapa sambil mengibaskan tas saya ke kakinya,” katanya.

“Dia marah. Lalu datang petugas lain dan mengancam melaporkan saya ke polisi. Berkali-kali dia mengancam dan memaksa saya untuk minta maaf ke dia.”

Hal serupa juga menimpa satu penumpang lainnya, Suharti Risky. “Saat itu tidak ada final call,” katanya. Keributan pun sempat terjadi. Pihak manajemen Lion Air lantas meminta maaf dan mengajak Rawi untuk berbicara dan berdamai.

• Baca: Polda: Jangan Mudah Pakai Istilah “Penyerangan” Ulama

Lion lantas menawarkan solusi tiket baru penerbangan ke Manado melalui Jakarta. “Saya tidak mau, karena selaku konsumen saya diperlakukan tidak nyaman di depan banyak orang,” kata Rawi.

Sementara Asisten Manajer Lion Air di Juanda, Dyan Eko, mengatakan bahwa masalah tersebut hanya kesalahpahaman. Dia mengaku telah menawarkan solusi dan kebijakan soal penerbangan, tetapi Rawi tidak mau.

Soal ancaman laporan ke polisi oleh petugas Lion ke Rawi, Eko berucap, “Itu urusan intern (pribadi) yang bersangkutan dengan staf kami,” kata Dyan.

Atas kejadian ini Rawi berencana menuntut pihak Lion Air atas kerugian materiil dan immateriil.

“Saya sebagai konsumen sudah dipermalukan di depan orang banyak dan besok (Senin) sebenarnya ada acara penting di kantor. Saya tidak membayangkan bagaimana jika kejadian ini menimpa orang lain,” katanya.