Emil Sukses di Pilgub, Rakyat Trenggalek Ikut Diuntungkan

SAMBUT KETUM PAN: Emil Dardak menyambut kehadiran Zulkifli Hasan bersama pimpinan DPD PAN Jatim di Trenggalek, Selasa (24/4). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
SAMBUT KETUM PAN: Emil Dardak menyambut kehadiran Zulkifli Hasan bersama pimpinan DPD PAN Jatim di Trenggalek, Selasa (24/4). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

TRENGGALEK, Barometerjatim.com – Keputusan Emil Elestianto Dardak maju di Pilgub Jatim 2018 bukan untuk meninggalkan masyarakat Trenggalek. Justru sebaliknya, jika dia bersama Cagub Khofifah Indar Parawansa diberi amanat memimpin Jatim, maka warga Trenggalek ikut diuntungkan.

“Logikanya, manakala putra Trenggalek bisa ikut berperan dalam pemerintahan dan pembangunan di tingkat provinsi, sudah seharusnya memberikan keuntungan bagi masyarakat Trenggalek,” papar Emil di sela mendampingi Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan melakukan kunjungan di Trenggalek, Selasa (24/4).

Namun yang terjadi, lanjut Emil, logika yang sudah benar ini coba dibalik sebagai isu politik dengan mengatakan dirinya akan meninggalkan, bahkan mengkianati daerahnya.

• Baca: Kagumi Hutan Kota, Zulhas: Emil Pintar dan Berbuat Nyata

“Kenapa saya katakan logika terbalik, saat mengunjungi hutan kota, di situ warga berkeluh kesah kepada Pak Zulkifli Hasan bagaimana kawasan hutan di Trenggalek ini bisa dikurangi karena syaratnya cuma 30 persen, namun kewenangan terkait ini di luar kewenangan kabupaten,” paparnya.

Contoh lain terkait penyusunan anggaran, saat Emil berusaha menyejahterakan pesanggem hutan (penggarap lahan hutan), niatan ini tidak bisa berlanjut setelah Bapeda menyampaikan kewenangan hal tersebut ada di provinsi.

“Hal ini menunjukkan sebagian besar nasib warga Trenggalek tidak hanya ditentukan oleh bupatinya, melainkan juga ditentukan oleh gubernur,” tegas doktor studi ekonomi pembangunan lulusan Jepang tersebut.

• Baca: Atasi Kemiskinan, Emil Ajak Pemuda Pulang Bangun Desa

Berikutnya tentang bagaimana membangun Trenggalek sebagai pesisir selatan Jatim yang kokoh, sebagai garda terdepan menghadap ke Samudera Hindia. Masalahnya sama, kewenangan pemerintah terhadap kelautan juga sudah diserahkan ke provinsi.

Tak sampai di situ, kewenangan pendidikan SMK/SMK juga ada di provinsi. Padahal dirinya selama menjadi bupati mempunyai banyak program untuk pendidikan setara SMA/SMK. Sehingga untuk mewujudkannya hanya bisa dilakukan melalui pemerintahan provinsi.

“Setelah melihat tiga pilar besar ini kewenangannya ada di provinsi, sehingga kebijakan terhadap hal ini harus dimintakan ke provinsi. Nah, apakah benar bila niatan maju ke menjadi Cawagub ini sebagai sebuah upaya meninggalkan atau berkhianat terhadap masyarakat Trenggalek,” tanya Emil dengan nada retoris.

• Baca: Keren! Duet Emil-Anjie Bangkitkan Energi Milenial Kediri

Karena itu, Emil menilai ada upaya menggiring opini terbalik sehingga dirinya dikesankan berkhianat. Padahal tujuannya selain mengambil amanah yang lebih besar, juga tetap berjuang untuk masyarakat Trenggalek.

Dulu, tambah Emil, di Trenggalek ada sosok bupati yang diangkat menjadi Gubernur Irian Jaya, Brigjen Sutran. Meski ditunjuk menjadi gubernur, Sutran tetap memikirkan Trenggalek dengan mengajak masyarakat Bumi Menak Sopal bisa bekerja di sana.

“Mau diapakan, putra Trenggalek tidak akan pernah melupakan apalagi sampai meninggalkan Trenggalek,” tandasnya.