Emil: Pemilih Lihat Rekam Jejak, Bukan Sebatas Program

DIELU-ELUKAN WARGA: Emil Dardak bersama istrinya, Arumi Bachsin saat acara di Wagir, Kabupaten Malang, Minggu (15/4). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
DIELU-ELUKAN WARGA: Emil Dardak bersama istrinya, Arumi Bachsin saat acara di Wagir, Kabupaten Malang, Minggu (15/4). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

MALANG, Barometerjatim.com – Cawagub Jatim nomor urut satu, Emil Elestianto Dardak menyampaikan secara lugas bahwa masyarakat saat ini semakin kritis dalam memilih pemimpin.

Menurutnya, masyarakat tidak lagi sebatas melihat program yang disampaikan pasangan calon karena visi dan misi masih janji, tapi lebih pada rekam jejak karena sudah bukti nyata dari sebuah pengabdian.

“Mereka (pemilih) melihat rekam jejak program. Jadi mereka melihat kemarin ngapain dan telah berbuat apa untuk masyarakat Jatim,” ucap Emil Dardak usai acara di Wagir, Kabupaten Malang bersama ratusan warga, Minggu (15/4).

• Baca: Eks Ketua DPC PDIP Beri Energi Baru Khofifah-Emil di Malang

Emil yang dipercaya Gubernur Jatim, Soekarwo untuk melanjutkan program Jatimnomic ini menuturkan, saat menyusun program kerja yang dikampanyekannya kepada masyarakat, dirinya bertumpu pada berbagai program Pemprov Jatim yang ‘dinahkodai’ Pakde Karwo.

“Baik tingkat keberhasilan, efek positif pada masyarakat, serta yang terpenting evaluasi dari program itu. Mana yang kurang dan belum maksimal. Ini yang kami jadikan program. Kita sangat detail menganalisa agar program tepat sasaran,” tutur ahli pengembangan kawasan tersebut.

Emil mencontohkan adanya program Jalin Matra maupun Program Keluarga Harapan (PKH) yang dinilainya berhasil, meski masih ada lansia dan disabilitas yang belum tercover sepenuhnya. Walaupun demikian, lubang-lubang ini akan dipertebal dan disempurnakan di masa kepemimpinan Khofifah-Emil jika memenangi Pilgub Jatim 2018.

Pelayanan Terpadu

Emil menambahkan, ada beberapa persoalan serius yang harus dibenahi ke depan,  tapi luput dari perhatian paslon lain. Misalnya, program pelayanan terpadu satu atap bagi persoalan pekerja migran. Program tersebut sebenarnya telah berjalan di Surabaya dan Tulungagung, namun tidak dijadikan program lanjutan oleh rivalnya.

Emil yang baru saja mendapatkan penghargaan Indonesia Visionary Leader kategori Best in Unlocking Local Potentiality menjelaskan, masih ada ruang serius dan harus dibenahi agar ke depannya persoalan seperti kemiskinan pedesaan, partisipasi sekolah yang relatif rendah terutama untuk perempuan, dan infrastruktur dasar, dapat teratasi.

“Di sini diperlukan percepatan-percepatan yang harus dilakukan dan harus menjadi solusi yang benar-benar membangun pemberdayaan masyarakat,” ungkap Emil.