Emil Dorong Anak Kampus Berinovasi Lewat Car Free Day

CAR FREE DAY: Warga yang memadati arena Car Free Day di Jalan Raya Darmo mengelu-elukan kehadiran Cawagub Emil Dardak dan istrinya, Arumi Bachsin. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
CAR FREE DAY: Warga yang memadati arena Car Free Day di Jalan Raya Darmo mengelu-elukan kehadiran Cawagub Emil Dardak dan istrinya, Arumi Bachsin. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Cawagub Jatim, Emil Elestianto Dardak berharap Car Free Day (CFD) tak sebatas menjadi rutinitas mencari udara pagi di tengah kota. Lebih dari itu, dia mendorong kawula muda maupun anak kampus untuk memanfaatkan CFD sebagai ajang kreasi dan inovasi.

“CFD ini bisa menjadi kesempatan seseorang untuk mengenalkan sesuatu yang baru, produk unik, promosi inovasi itu di sini. Ini kesempatan bagi anak-anak kampus, mahasiswa, untuk mendisplai apa yang baru,” katanya saat menghadiri CFD di Jalan Raya Darmo, Surabaya, Minggu (4/3).

Begitu pula dengan pedagang, Emil berharap sayogyangya barang yang dijual tidak setiap hari ada di toko. Dengan demikian ada pembeda dan lebih menarik minat pembeli. “Bisa saja (menjual) sesuatu barang yang unik, yang tidak setiap hari dilihat di toko,” tandasnya.

• Baca: Blusukan ke Pasar Praban, Emil Kenalkan Program “Gemilang”

Arena CFD di Jalan Darmo Surabaya hari ini memang lebih heboh dari biasanya lantaran Emil bersama istrinya, Arumi Bachsin tiba-tiba muncul di keramaian warga. Mereka pun berusaha merengsek dan minta ber-swa foto.

Usai beramah tamah dengan begitu banyak pengunjung yang menghampirinya, Emil menyempatkan diri menyambangi sejumlah pedagang kaki lima dadakan yang berjualan di lokasi keramaian FCD.

Sambil menikmati semanggi Suroboyo, Emil ngobrol dengan warga dan sempat disambati sejumlah pedagang. Mereka mengeluh tidak bisa berjualan sebab ada larangan.

• Baca: Gali Potensi Mataraman, Emil Gagas Kawasan Selingkar Wilis

“Saya menyuarakan keluhan para penjual di sini, soal larangan berjualan di trotoar. Padahal kami berjualan beberapa jam saja setiap minggunya. Mungkin seminggu sekali hanya dua jam saja,” keluh Agnia, penjual mukena mewakili aspirasi puluhan PKL dadakan di sekitaran Taman Bungkul.

Dia lalu membandingkan dengan beberapa tempat lainnya seperti Pasar Keputran atau Pasar Kembang, yang sampai meluber ke jalan raya dan setiap pagi masih diperbolehkan berjualan. “Kita ingin meminta jalan tengahnya, ada solusi bagi kami untuk bisa mengais rezeki di CFD ini,” timpal Agnia.

• Baca: Beber Program, Emil Cangkrukan Bareng ‘Warga Milenial’ Gresik

Menanggapi keluhan pedagang, Emil menyatakan penataan daerah menjadi kewenangan setiap pemerintah kabupaten atau kota. Sementara pemerintah provinsi hanya mendorong pertumbuhan UMKM agar bisa berkembang lebih baik.

“Saya yakin tanpa pedagang, CFD juga tidak akan ramai. Saya juga yakin bila semuanya duduk bersama pasti akan menemukan jalan keluar,” katanya.

“Pedagang harus bisa memahami pemerintah mengambil prespektif ini, dan sebaliknya pemerintah daerah melakukan hal yang sama untuk menemukan jalan tengahnya,” tambahnya yang disambut anggukan setuju pedagang.