Elemen Jokowi Masih Terpisah, Belum Satu Irama Gendang

BELUM SATU IRAMA GENDANG: Mochtar W Oetomo, berbagai elemen Jokowi-Ma'ruf Amin belum dalam satu irama gendang karena orientasi politik yang berbeda. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
BELUM SATU IRAMA GENDANG: Mochtar W Oetomo, berbagai elemen Jokowi-Ma’ruf belum dalam satu irama gendang karena perbedaan orientasi politik. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

PILPRES 2019 menjadi ujian berat bagi Machfud Arifin di arena politik setelah pensiun sebagai Kapolda Jatim. Terlebih saat ini dia menjadi orang nomor satu di Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma’ruf Amin wilayah Jatim.

Tantangan Machfud tidaklah ringan. Tidak sekadar memobilisasi suara untuk pemenangan Jokowi-Ma’ruf. Lebih dari itu, harus bisa menyatukan berbagai elemen pendukung dalam satu irama gendang, terutama Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN).

Maklum, meski bukan tim resmi pemenangan, pergerakan jaringan berbasis Nahdlatul Ulama (NU) kultural dan Muslimat NU yang kelahirannya dibidani Khofifah Indar Parawansa itu terlihat jauh lebih ‘berisik’ dan masif ketimbang TKD.

• Baca: Tak Ada Garis Komando, JKSN: TKD-Khofifah Hanya Koordinasi

Bahkan, usai menggelar deklarasi pemenangan untuk Jokowi-Ma’ruf hingga ke luar negeri, baru-baru ini JKSN menambah porsi strategi dalam mengeruk dukungan ala ‘tur Wali Songo’.

Khofifah begitu total memainkan strategi ini. Menggunakan armada bus, JKSN dibawanya menyasar dan menyeser pemilih di berbagai kabupaten/kota di Jatim bahkan lintas provinsi. Termasuk Jumat (2/11) hari ini menggelar konsolidasi di Semarang, Jawa Tengah.

Di sisi lain, keberadaan JKSN juga disambut gembira Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Erick Thohir. Hal itu dibuktikan dengan dua kali kehadirannya di acara JKSN di Jatim. Saat deklarasi di Mojokerto, 6 Oktober 2018, dan ketika peresmian Rumah Aspirasi di Surabaya, 26 Oktober 2018.

• Baca: Dukung Jokowi, TKD-JKSN Beda Target Kemenangan di Jatim

Bagi Pakar Politik asal Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Mochtar W Oetomo, perbedaan narasi di internal pendukung Jokowi-Ma’ruf harus segera disatukan dalam satu irama gendang agar target kemenangan 70 persen tercapai.

Kalau Jokowi sekadar menang di Jatim, hal itu dinilainya bukan prestasi karena di 2014 mengantongi modal kemenangan 11.669.313 suara (53,17%). Berikut wawancara khusus Barometerjatim.com dengan pengamat yang juga Dirut Surabaya Survey Center (SSC) tersebut:

Menilik kekuatan yang ada, akankah TKD dan berbagai elemen pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin mudah memenuhi target kemenangan 70 persen di Jatim?
Sebenarnya tidak semudah yang dibayangkan orang ya. Bahkan mungkin tidak semudah yang dibayangkan Pak Machfud. Ketika menjadi ketua TKD akan mudah karena Jokowi pada 2014 sudah menang di sini, ditambah fakta politik Khofifah mendukung, Pakde Karwo mendukung, dan seterusnya.

Kelihatannya kan mudah. Tapi bahwa, sekali lagi, Pilpres itu bukan semata-mata persoalan kuatnya timses, bukan semata-mata persoalan dukungan dari orang-orang kuat, termasuk kepala daerah di TKD yang begitu banyak. Tapi Pilpres itu lebih pada pertarungan figur, narasi maupun opini.

Maka tidak heran, kalau ternyata di internal sendiri ada perbedaan narasi maupun opini. Dalam konteks NU sendiri, katakanlah kubu Khofifah, itu kan tidak bersedia ada di dalam TKD, kemudian memilih fokus ke JKSN.

Anda melihat itu tantangan yang tidak mudah bagi Machfud?
Ya, ini akan menjadi tantangan, ujian yang tidak mudah bagi Pak Machfud. Bukan sekadar bagaimana mengonsolidasi elemen-elemen Jokowi yang terpisah ini agar dalam satu irama gendang.

Karena, secara fundamental elemen-elemen ini memiliki perbedaan orientasi politik, memiliki perbedaan panutan atau figur politik, mungkin juga perbedaan kepentingan.

Ini akan menjadi ujian, apakah Pak Machfud dengan segala latar belakangnya, nanti akan mampu mengonsolidasikan itu dalam satu irama gendang.

Artinya tak cukup sekadar mengantarkan Jokowi-Ma’ruf menang di Jatim?
Kalau sekadar menang saja, maka itu bukan prestasi, karena di 2014 sudah punya modal kemenangan. Kalau kemenangan Jokowi nanti di bawah 70 persen seperti yang ditargetkan, saya rasa itu adalah kegagalan.

“Elemen-elemen Jokowi belum terkonsolidasi. Pak Mahfud belum berhasil mengonsolidasi.”

Tentu itu tak mudah, karena sekali lagi Pilpres bukan sekadar mobilisasi suara, mobilisasi pemilih, tapi bagaimana tim bisa membangun narasi untuk meyakinkan masyarakat dan membuat masyarakat memilih.

Lantas apa ukurannya kemenangan yang dicapai juga berbuah prestasi bagi Machfud?
Salah satu ukurannya sebenarnya mudah. Kalau mau ukuran yang nampak, misalnya soal saksi. Kalau saksi nanti bisa diwakili semua elemen misalnya, itu berarti dia bisa mengonsolidasikan kekuatan.

Tapi kalau saksi yang resmi hanya diwakili elemen TKD, itu kan artinya ada problem. Itu baru dari sisi saksi, belum ngomong dari sisi speaker, influencer atau jubir yang berbicara ke publik melalui media. Kita bisa melihat nanti seirama atau tidak satu dengan yang lain.

Dan anda melihat berbagai elemen Jokowi-Ma’ruf di Jatim belum dalam satu irama gendang..
Satu case misalnya untuk konteks peringatan Hari Santri saja, antara JKSN dan TKD statement-nya sudah berbeda. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya elemen-elemen Jokowi belum terkonsolidasi. Pak Mahfud belum berhasil mengonsolidasi berbagai elemen tadi.

Belum berhasil atau gagal?
Dalam konteks sekarang menurut saya belum berhasil.

BEDA ORIENTASI POLITIK: Khofifah dan Machfud Arifin, belum satu irama gendang dalam memenangkan Jokowi-Ma'ruf Amin di Pilpres. | Foto: Barometerjatim.com/NATHA LINTANG
BEDA ORIENTASI POLITIK: Khofifah dan Machfud Arifin, belum satu irama gendang dalam memenangkan Jokowi-Ma’ruf Amin di Pilpres. | Foto: Barometerjatim.com/NATHA LINTANG

Baik. Semua elemen Jokowi-Ma’ruf mematok angka 70 persen kemenangan. Jika menang apakah nanti tidak saling klaim?
Ketika misalnya tercapai 70 persen, pasti akan terjadi saling klaim. JKSN akan klaim, TKD akan klaim, relawan akan klaim, Projo mungkin akan klaim, PDIP akan klaim. Ini susah kan mengukurnya.

Begitu sulit menyatukan berbagai elemen Jokowi di Jatim, apakah imbas dari pertarungan di Pilgub?
Itu otomatis, pasti. Ya persoalan Pilgub, ya Muktamar NU di Jombang. Jadi memang secara fundamental ada orientasi politik yang berbeda. Andaikan Pilpres ini ada tiga atau empat paslon, mungkin mereka tidak akan pernah jadi satu, karena orientasi politiknya berbeda.

Apakah saling show of force ini sekaligus menjadi pemanasan untuk 2020?
Saya rasa pemanasan untuk Muktamar NU juga Pilkada serentak, karena Pilkada serentak 2020 itu kabupaten/kota penting semua. Surabaya, Malang, Gresik, Lamongan, Mojokerto, Jember, Banyuwangi, kabupaten besar dan strategis semua. Artinya, sebenarnya semua punya kepentingan ke arah Muktamar NU dan Pilkada serentak.

» Baca Berita Terkait Mochtar W Oetomo, Sudut Pandang, JKSN, Jokowi