Elektabilitas Meroket, Khofifah-Emil Diserbu ‘Spanduk Hitam’

ULAH SIAPA?: Spanduk fitnah yang dipasang serentak di sejumlah kabupaten/kota di Jatim untuk mendiskreditkan Khofifah-Emil. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
ULAH SIAPA?: ‘Spanduk hitam’ yang dipasang serentak di sejumlah kabupaten/kota di Jatim untuk mendiskreditkan paslon nomor satu, Khofifah-Emil. | Foto: IST

SURABAYA, Barometerjatim.com – Semakin tinggi elektabilitas Khofifah-Emil Dardak — unggul 6,1 persen atas Gus Ipul-Puti versi hasil survei Alvara Research Center — semakin gencar pula diserang kampanye hitam, salah satunya lewat ‘spanduk hitam’.

Seperti diberitakan, dalam beberapa hari ini menjamur spanduk bergambar Khofifah-Emil dan Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim bertuliskan: Fatwa untuk rakyat Jatim, tidak memilih Khofifah-Emil khianat Allah Swt dan Rasul-Nya.

Ketua Bawaslu Jatim, Moh Amin menegarai ada yang sengaja ingin memperkeruh suasana Pilgub Jatim dengan cara memasang spanduk provokatif lalu memviralkannya melalui media sosial.

• Baca: Putri Rhoma Sayangkan ‘Kampanye Kotor’ Kubu Gus Ipul-Puti

Sedangkan yang menjadi alat atau korban spanduk hitam tersebut yakni Kiai Asep dan paslon nomor satu, Khofifah-Emil. Penyebaran spanduk ini terkesan disengaja karena terpasang di beberapa titik di sejumlah kabupaten/kota, salah satunya di Sidoarjo.

“Di beberapa kabupaten. Di Kabupaten Malang juga ada, di beberapa kabupaten lain juga ada laporan ada pemasangan itu,” terang Amin, Senin (11/6).

• Baca: Muslimat NU Doakan Pelaku ‘Kampanye Hitam’ Dapat Hidayah

Lantaran menegarai adanya niat jahat dari oknum yang ingin merusak suasana damai Pilgub Jatim, Bawaslu menginstruksikan seluruh jajaran Panwaslu kabupaten/kota yang di wilayahnya terdapat spanduk provokatif tersebut untuk melakukan klarifikasi.

“Kami instruksikan atau kami kordinasi dengan seluruh jajaran Panwaslu kabupaten/kota untuk melaukan klarifikasi ke seluruh pihak,” tegasnya.

Perkeruh Suasana

Klarifikasi atau meminta penjelasan itu bukan hanya ke satu paslon, tandasnya, tapi kedua tim Paslon di masing-masing daerah.

“Karena saya curiga atau menduga, jangan-jangan dipasang oleh orang-orang di luar ‘panggung’. Di luar panggung yang ingin mencoba memperkeruh suasana,” kata pria asal Sumenep itu.

Kecurigaan Amin, karena di Sidoarjo berdasarkan koordinasi dengan semua pihak hingga rekaman CCTV, pemasangan spanduk provokatif itu dilakukan pada waktu subuh. “Di pasang waktu subuh dengan waktu yang singkat dan apa adanya,” katanya.

• Baca: Khofifah Korban ‘Kampanye Hitam’, NU Ikut Dipojokkan

Kalau misalnya paslon atau tim paslon sendiri yang memasang, kata Amin, “Ini kan tidak mungkin sembunyi-sembunyi dengan waktu, waktu yang tidak sebenarnya, yang tidak seharusnya.”

Namun, tambah Amin, mengaskan ini baru dugaan. “Okelah bukan paslon satu bukan paslon dua, mungkin juga di luar paslon yang ingin memperkeruh suana,” tegasnya.