Dulu Minta Dukungan, Kini Risma ‘Lukai’ Khofifah dan Muslimat NU

MINTA DUKUNGAN: Tri Rismaharini (kiri) saat sowan ke kediaman Khofifah di Jemursari, Surabaya, untuk minta dukungan maju kembali di Pilwali Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/DOK
MINTA DUKUNGAN: Tri Rismaharini (kiri) saat sowan ke kediaman Khofifah di Jemursari, Surabaya, untuk minta dukungan maju kembali di Pilwali Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

SURABAYA, Barometerjatim.com – Rabu malam, 14 Oktober 2015. Tri Rismaharini yang akan kembali maju di Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Surabaya mendatangi kediaman Khofifah Indar Parawansa di Jemursari, Surabaya. Kala itu Khofifah, selain Ketua Umum PP Muslimat NU juga menjabat Menteri Sosial.

Malam itu, Khofifah masih terlihat lelah usai melakukan kunjungan ke sejumlah daerah di Jatim. Tapi karena untuk menjaga hubungan baik, bahkan sejak sebelum Pilwali Surabaya 2010, Khofifah tetap menemui Risma.

“Ya, sejak sebelum pemilihan wali kota 2010, saya sudah sering berkomunikasi dengan Bu Risma,” kata Khofifah dengan suara parau karena lelah, sambil merangkul bahu Risma. Sementara Risma berterus terang kalau kedatangannya ke kediaman Khofifah untuk minta dukungan di Pilwali Surabaya.

• Baca: Pengamat: Cara Risma Dukung Gus Ipul-Puti Kelewat Vulgar

“Saya ingin sowan dengan Bu Khofifah, sekaligus meminta restu untuk maju lagi jadi wali kota. Ini penting bagi saya karena Bu Khofifah tokoh asli Surabaya,” kata Risma yang datang bersama Cawawali pasangannya, Whisnu Sakti Buana dan sejumlah tokoh PDIP Surabaya.

Lewat restu Khofifah, Risma bahkan blak-blakan tidak hanya meminta dukungan dari warga  Muslimat NU, tapi juga Fatayat NU. “Muslimat sekaligus Fatayat,” tandasnya.

Khofifah pun tak sekadar memberi restu, bahkan secara khusus memerintahkan Ketua PC Muslimat NU Surabaya, Lilik Fadhilah untuk mengarahkan dukungan warganya ke Risma-Whisnu. Alhasil, berkat sumbangsih Muslimat NU, pasangan ini menang telak dengan meraih 86,22 persen suara.

• Baca: ‘Disindir’ Risma, Emil: Pendidikan Ya Gratis Ya Berkualitas!

Tiga tahun berselang, Risma seolah lupa kalau pernah ‘merengek’ meminta dukungan ke Khofifah. Demi mendukung Saifullah Yusuf-Puti Guntur di Pilgub Jatim 2018, dia justru ‘melukai’ Khofifah dan warga Muslimat NU dengan menyindir pasangan Khofifah-Emil calon yang keminter alias sok pintar.

“Kita tidak butuh pemimpin yang keminter. Kita hanya butuh yang mau mendengar. Gus Ipul itu orangnya mau mendengar, Mbak Puti itu orangnya amanah,” katanya saat sahur bareng warga Muteran RW 8, Surabaya, Selasa (12/6).

• Baca: Ansor Surabaya: Risma Lebih Peduli Taman Ketimbang Masjid

Tak hanya sekali Risma menyindir Khofifah-Emil. Di acara serupa, Minggu (10/6), kader PDIP tersebut juga mengatakan hal yang sama. Menyebut Khofifah-Emil calon yang sok pintar.

Namun, baik Khofifah maupun Emil, memilih tak mau menanggapi sindiran Risma demi menjaga suasana sejuk Pilgub Jatim. Keduanya lebih memilih fokus memenangi kontestasi di tengah elektabilitasnya yang meroket tajam — unggul 6,1 persen atas Gus Ipul-Puti versi hasil survei Alvara Research Center — jelang coblosan.

Emil, misalnya, lebih memilih berkomentar untuk meluruskan ‘gagal paham’ Risma terkait pendidikan gratis. Sama dengan pasangan Saifullah-Puti, Emil bersama Khofifah juga mengusung program pendidikan gratis, bahkan tak sebatas gratis tapi juga berkualitas.

“Harap diingat, kita tak hanya mengusung pendidikan gratis tapi ada plusnya yakni berkualitas. Ini yang kita sebut dengan istilah Tistas (gratis dan berkualitas),” tuturnya.

• Baca: Blusukan di Dolly-Jarak, Khofifah Terobos ‘Kandang Banteng’

Sementara Haji Masnuh, orang dekat almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Khofifah, menilai statement Risma sangat tak etis dan justru memicu suasana keruh di Pilgub Jatim 2018.

“Bu Risma itu ibarat kacang lupa kulitnya. Dulu dia ‘merengek’ meminta dukungan ke Bu Khofifah dan warga Muslimat NU, tapi sekarang bicara seperti itu. Ucapan Bu Risma itu melukai, menyakiti ibu-ibu Muslimat NU,” katanya saat dihubungi Barometerjatim.com, Selasa (12/6).

Sebagai wali kota, tandas Masnuh, mestinya tidak perlu bicara yang tidak etis dan melukai warga Muslimat NU yang juga warganya. “Ini akan berkepanjangan. Ke depan Muslimat NU bisa enggak mau membantu Bu Risma lagi karena hatinya sudah disakiti,” katanya.