Diskusi Hari Kartini: Integritas Perempuan Kunci Emansipasi

DISKUSI EMANSIPASI: Peringatan Hari Kartini di salah satu hotal di kawasan Mayjen Sungkono, Surabaya, Sabtu (21/4). | Foto: Barometerjatim.com/WIRA HARLIJADI
DISKUSI EMANSIPASI: Peringatan Hari Kartini di salah satu hotal di kawasan Mayjen Sungkono, Surabaya, Sabtu (21/4). | Foto: Barometerjatim.com/WIRA HARLIJADI

SURABAYA, Barometerjatim.com – Integritas menjadi kunci bagi perempuan dalam mengembangkan emansipasi saat ini. Tak hanya menjadi penyeimbang kaum pria, melainkan bisa berkreasi dan keluar dari pola pikir untuk lebih maju.

Paparan tersebut menjadi salah satu isu penting yang dibahas dalam diskusi memperingati Hari Kartini, sekaligus peringatan ulang tahun ketiga media perempuan Womanblitz di salah satu hotel di kawasan Mayjen Sungkono Surabaya, Sabtu (21/4).

Diskusi yang diikuti puluhan komunitas desainer indie dan beuty blogger itu menampilkan tiga perempuan sebagai narasumber. Yakni Jenni Lee (perajin Keramik), Ivy Kamadjaja (pengusaha logistik) serta Elizabeth Njo May Fen (fashion designer).

• Baca: Wow! Demi Acara Hari Kartini, Khofifah Rela Lari 2 Kilometer

Ketiganya dianggap menjadi inspirasi bagi kaum perempuan agar lebih maju. Apalagi kiprah mereka selama ini tak hanya menjadi perbincangan kaum perempuan di tingkat nasional, bahkan Asia.

Mengusung tema #Br3akThroughTheBarrier, ketiga narasumber dinilai mampu mengajak kaum perempuan untuk bisa keluar dari pemikiran mereka selama ini.

“Mampu menjadi inspirasi melalui kegiatan yang dilakukan. Perempuan-perempuan saat ini sudah banyak yang berprestasi. Nah, bagaimana mereka menjadi inspirasi bagi perempuan lainnya,” terang Lilis Rolina, founder Womanblitz.

Mantan jurnalis radio itu menerangkan, pengembangan kreasi dari kaum perempuan khususnya dari Surabaya, ternyata sudah mulai bersaing di kancah nasional dan internasional.

• Baca: Khofifah: Ternyata Kartini itu Seorang Ibu Nyai

Dipilihnya momentum peringatan Hari Kartini sebagai hari spesial, kata Lilis, karena menjadi penggerak bagi kaum perempuan milenial untuk bisa berkarya dan berkarier di tengah kesibukan sebagai ibu rumah tangga.

Lilis menambahkan, dengan kreasi perempuan saat ini bagaimana membangun sebuah jaringan, agar karya yang dihasilkan mampu terus dikembangkan. “Karena perempuan Surabaya dan Jatim sekarang sudah banyak diakui, terutama karya-karya mereka,” ujarnya.

Manfaat dari jaringan tersebut, nantinya menjadi sebuah motivasi bagi kaum perempuan Jatim untuk bisa mengembangkan diri. “Jadi perempuan sekarang tidak lagi menjadi penyeimbang kaum (emansipasi), tapi mereka juga bisa berkarya dan diakui,” urai ibu dua anak tersebut.