Dipimpin Khofifah, Emak-emak Jadi Fenomena di Jatim

THE POWER OF EMAK: (Dari kiri searah jarum jam) Khofifah Indar Parawansa, Mundjidah Wahab, Ita Puspita Sari, Puput Tantriana dan Anna Mu'awanah. | Foto: IST/Barometerjatim.com/ABDILLAH HR
THE POWER OF EMAK: (Dari kiri searah jarum jam) Khofifah Indar Parawansa, Mundjidah Wahab, Ita Puspita Sari, Puput Tantriana dan Anna Mu’awanah. | Foto: IST/Barometerjatim.com/ABDILLAH HR

SURABAYA, Barometerjatim.com – Kemenangan Khofifah Indar Parawansa di Pilgub Jatim 2018 memunculkan fenomena baru di Jawa Timur, yakni kekuatan emak-emak sebagai kepala daerah, setelah sebelumnya hanya muncul sebagai basis massa yang kuat.

Selain Khofifah, penghitungan cepat (quick count) Pilkada serentak di Jatim mencatat sejumlah perempuan sebagai pemenang. Yakni Puput Tantriana (bupati Probolinggo terpilih), Mundjidah Wahab (bupati Jombang terpilih), Ita Puspita Sari (walikota Mojokerto terpilih) serta Anna Mu’awanah (bupati Bojonegoro terpilih).

Kelima perempuan tersebut melengkapi kekuatan emak-emak yang sudah ada, yakni Tri Rismaharini, wali kota Surabaya yang menjabat sejak Februari 2016. Lalu Faida, bupati Jember yang menjabat sejak 2016.

• Baca: Surya Paloh, Orang Pertama Dorong Khofifah Maju ke Jatim

Berikutnya Haryanti Sutrisno, bupati Kediri yang menjabat sejak 2016 hingga masa periode 2021. Kemudian Dewanti Rumpoko, wali kota Batu periode 2017-2022. Serta Rukmini Buchori, wali kota Probolinggo yang menjabat sejak Januari 2014.

“Ini merupakan fenomena baru, The Power of Emak-emak,” ujar Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM)  Mochtar W Oetomo.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi fenomena ini. Pertama, keseimbangan elektoral. Selama ini mayoritas pemilih yang datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) adalah perempuan, bukan laki-laki.

• Baca: Khofifah-Emil Menang, Nasdem: Muslimat NU Paling Berperan

“Dulu suara perempuan yang mayoritas ini selalu tersalurkan ke laki-laki. Maka ketika semakin banyak perempuan yang menjadi calon, dengan sendirinya kecenderuangan ini bergeser,” jelas Dirut Surabaya Survey Center (SSC) itu.

Kedua, perempuan lebih loyal dan menjadi strong voters, sedangkan laki-laki cenderung soft voters. “Ini membuat calon perempuan memiliki basis pemilih lebih kuat dibanding laki-laki, Seperti Khofifah dengan Muslimat-nya,” tegasnya.

Ketiga, perempuan lebih photogenic dan good looking. Natural dalam konteks peradaban media dan medsos, sehingga calon perempuan lebih mendapat perhatian.

• Baca: Coblos Ulang di Wilayah Risma, Khofifah-Emil Tetap Menang

Selain itu, jumlah politisi perempuan lebih sedikit tersangkut masalah hukum juga menjadi pertimbangan. “Ini melahirkan harapan buat publik untuk mendapatkan pemimpin yang lebih baik,” tandas Mochtar.

Lagi pula saat ini menjadi momentum merebaknya kesadaran gender. “Bukan hanya skala nasional, tapi juga global. Ada gairah sebagaimana diramalkan Jhon Naisbit di abad 21 ini sosok perempuan merebut panggung sosial, ekonomi dan politik,” tuntasnya.