Dikartu Merah di DKI, Kini Charta Politika Unggulkan Gus Ipul-Puti

HASIL BERBEDA: Hasil survei Charta Politika lebih mengunggulkan pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur di Pilgub Jatim. | Grafis: Capture Charta Politika
HASIL BERBEDA: Hasil survei Charta Politika lebih mengunggulkan pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur di Pilgub Jatim. | Grafis: Capture Charta Politika

JAKARTA, Barometerjatim.com – Satu lagi hasil survei terkait elektabilitas Cagub-Cawagub Jatim dirilis. Jika lembaga survei lain mengunggulkan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak, Charta Politika justru melejitkan elektabilitas pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur.

Survei dilakukan pada 3-8 Maret 2018. Ada 1.200 responden yang dipilih dengan metode stratified multistage random sampling. Margin of error kurang lebih 2,8 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Dalam survei, Charta Politika melakukan simulasi lewat penyebaran kertas suara ke 1.200 responden dengan pertanyaan: Jika Pilkada Jatim dilaksanakan hari ini, siapa yang dipilih?”. Hasilnya, Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur meraih 44,8 persen suara, Khofifah-Emil Dardak 38,1 persen.

• Baca: Poltracking: Elektabilitas Khofifah-Emil Libas Gus Ipul-Puti

“Kalau kita lihat angkanya berbeda 6,7 persen. Yang tidak tahu/tidak jawab 17,1 persen,” terang Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunanto Wijaya saat memaparkan hasil survei lembaganya di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (21/3).

Survei Charta Politika juga menunjukkan adanya tren penurunan elektabilitas pada pasangan Khofifah-Emil. Jika pada Januari 2018 masih di angka 41,5 persen, memasuki Maret 2018 menjadi 38,1 persen. Sebaliknya, rival mereka, Gus Ipul-Puti Guntur mengalami peningkatan dari 42,6 persen pada Januari menjadi 44,8 persen di bulan Maret.

Namun soal popularitas, Khofifah lebih tinggi dengan 92,9 persen suara, mengungguli Gus Upul yang meraih 91,7 persen. “Artinya, tingkat pengenalan atau popularitas kedua cagub sudah pada titik tertinggi,” katanya.

• Baca: 50,5 Persen Pemilih PKB ‘Kabur’ ke Khofifah-Emil

Di level Cawagub, popularitas Emil Dardak meraih 50,7 persen atau melewati Puti yang dikenal 42,2 persen responden. “Artinya, kedua Cawagub tersebut masih punya pekerjaan rumah untuk meningkatkan popularitasnya,” tambah Yunarto.

Bagaimana dengan dukungan Parpol? Khofifah-Emil diuntungkan dengan topangan Partai Demokrat yang sukses mengarahkan pendukungnya ke Khofifah-Emil. “Pemilih Demokrat sangat solid dalam memberikan dukungan kepada pasangan Khofifah-Emil, dengan persentase 70,5 persen,” katanya.

Di kubu lawan, pemilih PDIP dan PKB belum solid dengan persentase masing-masing 59,9 persen dan 64,1 persen. Dua Parpol pendukung Gus Ipul-Puti lainnya, Gerindra dan PKS malah dukungan mengarah ke Khofifah-Emil.

Kartu Merah Charta Politika

HASIL SURVEI: Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunanto Wijaya saat memaparkan hasil survei lembaganya. | Foto: Ist
HASIL SURVEI: Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunanto Wijaya saat memaparkan hasil survei lembaganya. | Foto: Ist

Hanya saja, hasil survei ini patut dipertanyakan karena menyangkut kredibilitas Charta Politika. Saat Pilkada DKI Jakarta 2017, lembaga survei ini diberi ‘kartu merah’ bersama dua lembaga lainnya, Saiful Mujani Research Counsulting (SMRC) dan Indikator oleh peneliti FISIP Universitas Indonesia (UI) Fitri Hari.

Tiga lembaga survei itu, menurut Fitri, pantas diberikan kartu merah oleh publik karena hasil surveinya buruk dan fatal terhadap perolehan suara dua pasangan calon dalam pencoblosan.

Mereka diduga dalam mengolah data serta menggunakan metodologi berdasarkan ‘titipan’. “Kartu merah diberikan kepada SMRC, Indikator dan juaranya Political Charta,” katanya, 21 April 2017 lalu.

• Baca: Pengamat: Tren Elektabilitas Khofifah-Emil Kian Melesat

Karena itu, Fitri mengemukakan perlunya audit publik terhadap lembaga survei. Hal ini penting dilakukan, sebab publik oleh lembaga survei dijadikan obyek, namun publik tidak mengkritisi hasil dari survei lembaga tersebut.

“Publik harus aktif menilai kinerja lembaga survei. Sehingga ke depannya lembaga survei lebih berhati-hati mempublikasi risetnya dan lebih memperhatikan metodologi,” katanya.

Menurut Fitri, ada dua kesalahan fatal sehingga tiga lembaga tersebut layak dikartu merah. Pertama, kegagalan menggambarkan trend yang menyebut Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terus naik dan Anies Baswedan terjun bebas. Padahal tidak sesuai kenyataan.

• Baca: Survei: Popularitas Khofifah Teratas, Gus Ipul Bisa Bablas

Kedua, gagal menggambarkan selisih kemenangan. Ketiga lembaga itu menyatakan selisih paslon Anies-Sandi dan Ahok-Djarot sangat tipis, bahkan di bawah margin of error. Kenyataannya, selisih suara Anies-Sandi dan Ahok-Djarot sangat besar di atas 15 persen alias berlipat di atas margin of error.

Soal Charta Politica menjadi lembaga dengan status juara kartu merah, alasan Fitri karena satu-satunya lembaga yang menggambarkan paslon Ahok-Djarot sudah menyalip Anies-Sandi. Padahal Anies justru jauh meninggalkan Ahok.