Darah NU Mengalir Deras di Negeri Samurai

DARAH NU: Bupati Trenggalek, Emil Elistyanto Dardak bersama istrinya, Arumi Bachsin dalam satu acara di Tulungagung. | Foto: Barometerjatim.com/Dok

Darah Nahdlatul Ulama (NU) mengalir deras di tubuh Bupati Trenggalek, Emil Elistyanto Dardak. Bahkan dia tercatat sebagai aktivis muda NU sejak masih kuliah di Jepang, 2004 hingga 2006. Saat itu, Emil menempuh pendidikan pasca sarjana di Ritsumeikan Asia Pacific University.

KETERTARIKAN Emil terlibat aktif di NU karena dalam syiar agamanya lebih mengedepankan prinsip keramahan dan lebih toleran. Maka, di medio 2004, dia menjadi penggerak eksistensi NU cabang istimewa (PCI) di Negeri Sakura.

Bagi Emil, para mahasiswa Indonesia yang belajar di Negeri Samurai butuh wadah keagamaan nan ramah dan toleran. “Jepang itu negara kepulauan, sama seperti di Indonesia. Tapi saat saya berada di sana, belum ada wadah diskusi tentang ke-Islaman yang ramah,” katanya saat bincang santai dengan wartawan di Surabaya, Kamis (23/2).

Anggota NU di Jepang, lanjutnya, adalah para mahasiswa asal Indonesia. “Para mahasiswa Indonesia di Jepang juga membutuhkan forum kajian dan diskusi agama yang ramah seperti yang mereka ketahui dan pelajari di tanah air.”

Memang, diakui Emil, di Jepang ada organisasi keagamaan dan kajian tentang Islam. Tapi kajiannya berbeda dengan yang dipelajarinya sejak kecil di tanah air. “Karena inilah, dulu di Jepang, saya dan beberapa teman di sana, memilih NU sebagai wadah kajian Islam. Karena kami menganggap NU-lah organisasi Islam yang ramah dan lebih toleran dalam syiarnya,” tuturnya.

Saat aktif sebagai pengurus, beberapa program yang digagas Emil dan teman-temannya adalah memproduksi konsep pengenalan teknologi informasi kepada santri untuk nelayan di Pati, Jawa Tengah. “Kemudian ada juga konsep al Qur’an digital yang saat ini sudah banyak dimanfaatkan masyarakat,” sambungnya.

• Baca: Surga di Bawah Kaki Latifah

Sayangnya, saat lulus dari Ritsumeikan Asia Pacific University dengan predikat doktor ekonomi pembangunan termuda (22 tahun) dan kembali ke tanah air, Emil sibuk menjadi konsultan bank dunia hingga jarang aktif lagi di NU. Apalagi, saat ini dia menjabat bupati Trenggalek.

“Tapi kultur saya tetap NU, komunikasi dengan orang-orang NU tetap terjalin, bahkan yang menikahkan saya dengan istri saat itu ketua PBNU,” akunya.

Emil menganggap, NU telah meletakkan dasar Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. “Para pendiri NU telah merumuskan kajian dan ajaran Islam dari yang bersifat tekstual dan kontekstual, menjadi formula yang ideal untuk menjadi pegangan hidup umat manusia,” tandasnya.