Cerita Berujung Kematian Korban ‘Salah Tangkap’

DUKA KELUARGA: Keluarga Suharto menyesalkan penangkapan almarhum yang dalam kondisi sakit dan tak terlibat kasus narkoba.

Nahas berujung kematian dialami Suharto, warga Tempel Sukorejo, Surabaya. Pria 68 tahun ini menjadi korban ‘salah tangkap’ anggota Sat Reskoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Dalam kondisi sakit dia ditangkap dan akhirnya meninggal setelah sempat dirawat di rumah sakit. Kini keluarga korban menuntut pertanggungjawaban polisi.

RABU  (22/2) sore nan kelam bagi Suharto. Saat itu polisi hendak menangkap Devi Utomo (30), target operasi (TO) pelaku narkoba. Rumah Devi berada persis di belakang rumah Suharto, keduanya adalah paman dan keponakan.

Saat aksi penangkapan, kebetulan almarhum tengah duduk di depan rumah. Kepada Suharto, polisi bertanya rumah Devi. Selanjutnya polisi menangkap Devi yang tengah tidur. Polisi juga melakukan penggeledahan, termasuk ruang dapur yang biasa digunakan keluarga Suharto dan Devi memasak.

Di dapur keluarga itulah, polisi mendapati klip plastik dan alat suntik. Namun menurut Suherlin, salah satu adik perempuan Suharto, klip plastik tersebut milik istri Suharto yang bekerja sebagai pedagang makanan untuk mengemas sambal.

Sementara alat suntik, biasa digunakan Suharto untuk memberi makanan anak merpati. Namun polisi tak percaya dengan keterangan Suherlin, membentaknya, sambil mendorong kepala Suherlin dengan tangan.

Melihat adiknya diperlakukan secara kasar, Suharto tak terima dan balas menghardik polisi, yang kemudian mengancam akan menembak Suharto.

“Ya silakan ditembak. Jangan mentang-mentang pakai seragam terus sak enake sendiri,” kata Hery, anak Suherlin menirukan jawaban Suharto, Jumat (24/2).

Usai peristiwa itu, dengan tuduhan bahwa Suharto bandar narkoba, polisi lantas membawa paksa Suharto bersama Devi. “Ibu saya sempat menghalangi polisi dan memperingatkan kalau Suharto dalam keadaan sakit. Apakah polisi nanti akan bertanggung jawab bila terjadi apa-apa,” lanjut Hery.

“Ya silakan ditembak. Jangan mentang-mentang pakai seragam terus sak enake sendiri.”

Saat keduanya hendak dibawa ke mobil polisi yang terparkir di depan gang, Suharto yang berjalan tertatih karena sakit ambruk di tengah jalan.

“Saya melihat Pak Harto (Suharto) sudah bersandar di dinding, lalu jatuh terduduk. Itu di depan rumah nomor 93,” terang Rasmad, salah seorang warga yang menyaksikan peristiwa tersebut.

Rasmad kemudian menolong Suharto. Dia melihat ada tiga polisi, tapi justru meninggalkan Suharto dan terus membawa Devi. Rasmad bahkan melihat Suharto muntah, lalu pingsan. Diapun meminta tolong warga sekitar untuk membawa Suharto ke rumah sakit. “Dari rumah, Pak Harto dibawa ke rumah sakit,” kata Rasmad.

Saat dirawat di RS William Booth, Jl Diponegoro, Suharto mengembuskan napas terakhirnya pada Kamis (23/2) sekitar pukul 14.00 WIB dan dimakamkan Jumat pagi.

Riwayat Sesak Napas
Menurut pihak keluarga, Suharto mempunyai riwayat sesak napas. Namun bukan kematian karena sakit yang dipermasalahkan, tapi perlakuan tak manusiawi oleh polisi kepada Suharto yang tengah sakit. Terlebih dia bukan pelaku ataupun terlibat kasus narkoba.

Sebaliknya, pihak keluarga tak mempermasalahkan penangkapan Devi karena memang terlibat kasus narkoba. “Masa dibiarkan begitu saja, malah ditinggal pergi, mana tanggung jawabnya?” ketus Semono, putra sulung Suharto.

Dia minta polisi bertanggung jawab dan menjelaskan dengan apa yang terjadi. Bila polisi salah, pihak keluarga minta agar mengaku saja biar semuanya menjadi jelas, minimal meminta maaf kepada pihak keluarga.

“Belum ada permintaan maaf dari polisi. Ini akan kami lanjutkan hingga polisi menjelaskan semuanya,” tegas Semono.

• Baca: Tiga Kali Lolos, Berakhir di Tangan Tim Anti Bandit

Namun polisi menyangkal telah salah tangkap hingga menyebabkan kematian warga. Mereka menegaskan hanya menangkap satu orang tersangka narkoba serta barang bukti 0,32 gram sabu.

“Tidak ada salah tangkap. Yang ditangkap ya cuma satu, Devi Utomo,” tegas Kasat Narkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak, AKP Redik Tribawanto.

Redik menambahkan, anggotanya memang sejak awal memburu Devi sebagai TO. Devi juga residivis yang baru setahun lalu keluar dari penjara.

Suharto, kata Redik, sama sekali tidak berhubungan dengan peristiwa penangkapan Devi. “Kami tidak tahu Suharto itu siapa? Saya juga baru tahu dari rekan semua (wartawan, red),” katanya.