Cegah Narkoba, BNNP-GNAN Jatim Safari Ponpes di Jember

SEMANGAT SANTRI: Aris Purnomo (kiri) dan Gus Hans, sosialisasi bahaya narkoba di Ponpes Annur HA Rambigundam. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
SEMANGAT SANTRI: Aris Purnomo (kiri) dan Gus Hans, sosialisasi bahaya narkoba di Ponpes Annur HA. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

JEMBER, Barometerjatim.com – Penyalahgunaan dan peredaran narkoba bisa menyasar siapa saja, termasuk kalangan pondok pesantren (Ponpes). Terlebih April lalu, Polda Jatim mengungkap dari 1.800 kasus sejak Januari hingga Maret 2021, 15 (1%) di antaranya terjadi di lingkungan pesantren.

Mencegah hal tersebut terulang, Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim, Brigjen Pol M Aris Purnomo gencar melakukan sosialisasi pencegahan narkoba dengan menyisir pesantren di Kabupaten Jember, Selasa (9/10/2021).

Dalam sosialisasi hasil kerja sama dengan Gerakan Nasional Anti Narkoba (GNAN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim tersebut, BNNP mengawali dengan menyisir dua Ponpes, yakni Ponpes Annur HA di Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji asuhan KH Rohmatulloh Ali, serta Ponpes Annuriyyah di Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji yang didirikan KH Moh Sholeh Syakir dan kini diasuh KH Moh Nuru Sholeh.

Aris menuturkan, pihaknya bersyukur bisa masuk ke pesantren berkat kerja sama dengan GNAN MUI Jatim. “Sementara ini baru dua pesantren, namun kita akan terus ke daerah-daerah lain,” katanya.

Dia juga senang, karena dari berbagai permasalahan yang ada pihak pesantren bisa memberikan jalan keluar.

“Jadi tergantung dari pengasuh pesantren. Ketika dia menerapkan berbagai aturan super ketat, maka penyalahgunaan narkoba di pesantren ini bisa dieliminir,” katanya.

Soal munculnya kasus narkoba di pesantren beberapa waktu lalu, Aris menuturkan, memang dalam beberapa kasus ada masyarakat justru menitipkan anaknya yang terkena narkoba ke pesantren dengan harapan bisa sembuh. Bukannya sembuh, yang terjadi malah menulari teman-temannya.

“Namun saya berpendapat, bahwa itu tergantung pada aturan yang diberlakukan di lingkungan pesantren tersebut. Ketika memberikan aturan yang cukup ketat, maka narkoba tidak bisa masuk,” katanya.

Tak Mau Kecolongan

SAMBUTAN ANTUSIAS: Aris Purnomo sosialisasi bahaya narkoba di Ponpes Annuriyyah di Desa Kaliwining. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
SAMBUTAN ANTUSIAS: Aris Purnomo sosialisasi bahaya narkoba di Ponpes Annuriyyah di Desa Kaliwining. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

Ketua GNAN MUI Jatim, Zahrul Azhar Asumta alias Gus Hans menambahkan, safari pesantren ini adalah wujud dari kerja sama kedua lembaga.

“Diharapkan bisa memberikan pemahaman terhadap para santri tentang bahaya narkoba, dan bagaimanapun juga ketika kita bicara Jatim maka tidak bisa melepaskan tentang komunitas pesantren,” katanya.

Sosialisasi di Ponpes Annur HA dan Ponpes Annuriyyah, lanjut Gus Hans, menjadi hari pertama road show dan BNPP-GNAN MUI Jatim akan terus keliling pesantren lain di Jatim.

Kenapa pesantren yang dikhawatirkan, bukankah tempatnya orang baik? Menurut Gus Hans, justru pihaknya ingin mempertahankan brand baik yang melekat dalam pesantren tersebut.

“Ada istilah mengatakan begini: Tempat yang terang adalah tempat persembunyian yang terbaik,” kata Gus Hans yang juga pengasuh Ponpes Queen Al Azhar Darul Ulum, Peterongan, Jombang.

“Khawatirnya kalau kita sudah yakin bahwa pesantren itu tempatnya orang baik, bisa jadi justru menjadi persembunyian bagi orang-orang yang berniat tidak baik. Maka kita tidak mau kecolongan tentang permasalahan narkoba ini di pesantren,” tuntasnya.

» Baca Berita Terkait Narkoba