BI Ajak Genjot Perdagangan Dalam Negeri

PERDAGANGAN ANTARDAERAH: Difi Ahmad Johansyah (kedua kanan), Jatim perlu mengintensifkan perdagangan antardaerah. (Istimewa)

SURABAYA, Barometerjatim.com – Kondisi sejumlah negara tujuan ekspor, di antaranya China sepanjang 2016 melemah dan bisa menggerus permintaan keluar. Karena itu perdagangan antarpulau Jatim perlu digenjot.

“Pada 2016, ekonomi China hanya tumbuh 6 persen dari sebelumnya pertumbuhan negeri Tirai Bambu itu konsisten di level 8 persen. Hal itu jelas mempengaruhi demand impor China, termasuk permintaan ke Jatim,” kata Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jatim, Difi Ahmad Johansyah di Surabaya, Rabu (18/1).

Difi mengatakan, Jatim harus terus menggenjot perdagangan dalam negeri, seperti perdagangan antarpulau atau antarprovinsi karena saat ini sudah memiliki kamar dagang di 24 provinsi di Indonesia.

“Hal ini bisa menjadi peluang bagi Jatim untuk terus mengembangkan perdagangannya. Oleh karena itu, harus diintensifkan perdagangan antardaerah,” katanya.

Menurutnya, banyak yang bisa dijual Jatim ke provinsi lain seperti sektor pangan, hasil bumi hingga industri manufaktur di Jatim yang bisa membuat roda perekonomian nasional ikut bergairah.

“Dengan menggenjot perdagangan antardaerah, Jatim tidak akan terpengaruh kondisi ekonomi global. Sehingga demand ekspor yang tergerus tak akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Jatim,” katanya.

Difi berharap Jatim tidak menjadi provinsi komoditas dan optimistis pertumbuhan ekonomi bisa melesat meski laju perekonomian global memburuk.• roy/ara