Berani Sebut Khofifah Cukup Satu Periode, Siapa Gus Thoriq?

POHON ZITUN: Khofifah didampingi Gus Thoriq menanam pohon zaitun di Ponpes Babussalam, 21 September 2017. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS/DOK
POHON ZITUN: Khofifah didampingi Gus Thoriq menanam pohon zaitun di Ponpes Babussalam, 21 September 2017. | Foto: Barometerjatim.com/DOK

MALANG, Barometerjatim.com – Di tengah hujatan warganet terkait pesta ulang tahun (ultah) Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa yang belum juga reda, KH Thoriq bin Zaid bin Darwis alias Gus Thoriq malah melemparkan pernyataan mengejutkan: Khofifah cukup satu periode memimpin Jatim!

Berani sekali, siapa Gus Thoriq? Nama Pengasuh Ponpes Babussalam, Banjarejo, Pagelaran, Kabupaten Malang tersebut melejit sebagai pencetus Hari Santri Nasional (HSN) yang kini diperingati setiap 22 Oktober.

Kala itu, gagasan HSN disampaikannya kepada Joko Widodo (Jokowi) pada 27 Juni 2014 saat melakukan kunjungan ke Babussalam untuk menghadiri acara haul pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyaikh KH Hasyim As’ayri dan Presiden ke-1 RI, Soekarno.

“Saat itu saya kontrak politik dengan beliau (Jokowi). Saya bilang, saya siap mendukungnya, asal ketika jadi nanti dia menetapkan Hari Santri Nasional,” ujar Gus Thoriq.

“Beliau mengiyakan dan bertanda tangan hitam di atas putih, sekaligus bersumpah di depan khalayak,” tandasnya.

Sebelumnya, sejak 2009, Gus Thoriq sudah menggaungkan HSN melalui pertemuan 106 pengasuh Ponpes di Malang, dilanjutkan dalam diskusi di Universitas Jember (Unej) pada 2012.

Pada saat yang sama, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) merekomendasikan agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikannya.

Gus Thoriq mengajukan 1 Muharam sebagai Hari Santri. Selanjutnya, usulan itu sampai ke tangan Jokowi sebelum pemungutan suara Pilpres 2014.

Setelah terpilih menjadi presiden, Jokowi menepati janji dan meresmikan 22 Oktober sebagai HSN di Masjid Istiqlal Jakarta, 22 Oktober 2015. Tanggal tersebut dipilih sesuai seruan jihad dari KH Hasyim Asy’ari.

“Saya berterima kasih kepada Pak Jokowi serta PBNU, yang telah mengawal gagasan ini sampai gol,” kata Gus Thoriq.

Namun demikian, saat diwawancarai Barometerjatim.com pada Kamis, 21 September 2017, Gus Thoriq menegaskan tetap memperingati HSN pada 1 Muharam karena menurutnya tanggal itu yang paling tepat.

“Enggak apa-apa beda, saya tetap 1 Muharam,” katanya usai peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1439 H serta Haul KH Muhammad Sa’id (Pendiri Ponpes Putra Babussalam), Hari Santri Nasional, Haul Habaib dan Masyayikh Pesantren se-Indonesia.

Di Pilgub Jatim 2018, Gus Thoriq menjadi salah seorang kiai yang turut mendukung Khofifah. Soal mengapa tidak mendukung Saifullah Yusuf (Gus Ipul), karena Khofifah yang saat itu menjabat Menteri Sosial lebih dulu datang ke Babussalam diiringi penanaman pohon zaitun.

“Secara estetika politik, tetap yang duluan datang yang saya dukung. Saya akan mendukung Bu Khofifah di 2018,” katanya.

Bagi Gus Thoriq, Khofifah memiliki harapan besar untuk menyejahterakan masyarakat sekaligus menciptakan kedamaian di Jatim. “Makanya (penanaman pohon) ziatun (yang dilakukan Khofifah) tadi simbol perdamaian untuk Jatim,” katanya.

“Kami ada harapan besar untuk Bu Khofifah. Mudah-mudahan beliau bisa mengamankan Jatim dengan sangat damai. Saya percaya, dengan sentuhan beliau Jatim betul-betul bisa maju.”

Kala itu, Gus Thoriq juga yakin Khofifah akan memenangkan Pilgub Jatim 2018 karena situasinya sudah berbeda. Dorongan dan dukungan masyarakat jauh lebih besar, termasuk di kalangan Nahdliyin.

Setelah Khofifah resmi maju berpasangan dengan Emil Elestianto Dardak, Gus Thoriq juga tak henti memberikan dukungan. Termasuk pada 30 April 2018, membawa alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang tergabung dalam Kiper Nasionalis Jatim (KNJ) deklarasi dukungan untuk Khofifah-Emil.

Namun kini Gus Thoriq berubah arah karena sejumlah alasan dan berbalik menjadi orang pertama yang melontarkan pernyataan keras: Khofifah cukup satu periode memimpin Jatim.

» Baca Berita Terkait Heboh Ultah Khofifah