Belum Selesai di Banyuwangi, Anas Ogah ‘Naik Kelas’ ke Jatim

RAKOR: Abdullah Azwar Anas dalam Rapat Koordinasi Kerjasama dengan Lembaga Bank Pembangunan Asia (ADB) di Surabaya, Kamis (13/4). | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA DP

SURABAYA, Barometerjatim.com – Nama Abdullah Azwar Anas turut menghiasi hasil survei dua lembaga, The Initiative Institute dan Berpikir Institute, untuk ‘naik kelas’ dari bupati Banyuwangi maju ke panggung Pilgub Jatim 2018.

Maknanya, Azwar Anas dimungkinkan bersaing dengan nama populer sekelas Khofifah Indar Parawansa, Saifullah Yusuf maupun Tri Rismaharini. Bahkan dari riset Berpikir Institute, Azwar Anas mengalahkan sejumlah nama hebat ‘lapis kedua’, salah satunya Ketua DPW PKB Jawa Timur, Abdul Halim Iskandar.

Namun menanggapi hasil riset dua lembaga itu, Azwar Anas menjawab enteng: Jabatan gubernur atau bupati tak ada bedanya. Sama-sama melayani masyarakat, meski bupati cakupan wilayahnya lebih kecil dibanding gubernur.

“Jangan ngomong soal Pilgub deh. Tapi intinya, saya berterima kasih pada media atau pengamat yang mengapresiasi kinerja kami di Banyuwangi,” katanya usai acara Rapat Koordinasi Kerja Sama dengan Lembaga Bank Pembangunan Asia (ADB) di Surabaya, Kamis (13/4).

Mantan anggota DPR RI ini menegaskan, sampai saat ini dirinya masih ingin fokus membangun dan mengembangkan pariwisata di daerahnya. “Jadi saya lebih milih fokus di Banyuwangi saja. Toh di Banyuwangi atau Jatim sama-sama bermanfaatnya, sama-sama berusaha memberi yang terbaik bagi publik,” ucapnya.

• Baca: Ramal Elektabilitas Cagub Pakai Data Sekunder, Ada Apa dengan Berpikir Institute?

Terlebih, lanjutnya, dia masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan hingga akhir masa jabatannya, seperti pengentasan kemiskinan, peningkatan layanan pendidikan serta kesehatan.

“Belum lagi masalah sektoral bidang ekonomi seperti penguataan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), pertanian serta infrastruktur,” tandasnya.

Agar semua program yang dicanangkan sukses, perlu keseriusan. Apalagi daerah kecil-menengah seperti Bumi Blambangan butuh SDM mumpuni untuk mengejar ketertinggalan. Berbeda dengan kota besar seperti Surabaya yang memiliki stok SDM unggul.

“Jadi saya kira dalam bekerja perlu prioritas, perlu fokus. Maka saya pilih konsentrasi di Banyuwangi. Tidak perlu berpikir soal mobilitas politik, termasuk soal Pilgub tahun depan.”

“Aktivitas saya, kalaupun disebut aktivitas politik, itu berkaitan dengan lobi kolega di pemerintah pusat dan provinsi dalam rangka membantu pengembangan Banyuwangi,” tutupnya.