Belajar Dulu di Legislatif Baru Naik Kelas ke Eksekutif

PATUH NASIHAT KIAI: Kartika Hidayati, pernah duduk di legislatif dan kini di eksekutif di antaranya buah patuh nasihat KH Hasyim Muzadi. | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA DP

LAMONGAN, Barometerjatim.com – Wakil Bupati Lamongan, Kartika Hidayati merasakan duka mendalam atas wafatnya KH Hasyim Muzadi. Terlebih mantan ketua umum PBNU itu banyak mengajarkan tentang komitmen keumatan dan ke-NU-an: Sosok guru kenegarawanan di negeri ini.

Sebagai murid langsung, Kartika memiliki banyak kenangan bersama Kiai Hasyim. Termasuk ketika dirinya hendak mencalonkan diri sebagai bupati/wakil bupati (eksekutif) namun dilarang.

Sinau disik nang legislatif. Yen wis lulus kabeh baru ke eksekutif ben manfaatnya jelas kepada umat dan negeri ini. Ben nggak gampang dibujuki wong liyan,” kata Kartika saat dihubungi, Jumat (17/3), menirukan nasihat Kiai Hasyim.

Nasihat itu begitu berkesan dan diturutinya. Alhasil dua-duanya, baik legislatif maupun eksekutif, berhasil diraihnya. Setelah menjadi anggota DPRD Jawa Timur kini Kartika menjabat wakil bupati Lamongan. Selain itu dia juga ketua Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Lamongan.

• Baca: Anwar Sadad: Abah Hasyim Figur Inspiratif

“Sekarang ketika menjadi eksekutif, ibarat orang berjalan sudah paham dengan semua rambu-rambu, tinggal lempeng saja. Matur nuwun Abah, semangat Abah selalu memberi energi posisitif bagi perjuangan saya,” katanya.

Kiai Hasyim, tutur Kartika, juga mengajarkan agar terus berjuang karena proses perjuangan bakal memahat kita menjadi lebih bijak dan ikhlas dalam melihat hasil.

“Selalu harus yakin dengan takdir Allah Swt. Semua harus dilakukan dengan kerja keras, berkarakter santun dan tetap istiqomah menjaga NKRI dengan apa yang bisa kita lakukan,” katanya.

Kaplingisasi Perjuangan
Hal menarik lain yang diajarkan Kiai Hasyim terkait perjuangan di NU, papar Kartika, mesti ada kaplingisasi dengan melihat umur serta bidang garapan.

Misalnya usia IPNU-IPPNU adalah pelajar, maka bidang garapan fokus pada pelajar dan santri pondok pesantren. “Sedangkan bidang perjuangannya adalah bagaimana selalu belajar menguatkan capacity buiding agar kelak menjadi penerus perjuangan NU yang hebat dan berkarakter,” katanya.

Untuk Ansor dan Fatayat, karena usianya pemuda-pemudi, bidang garapan yakni kepemudaaan hingga persiapan untuk membentuk keluarga sakinah mawadah warahmah dan bergerak dengan program-program kepemudaaan.

“Sekarang ketika menjadi eksekutif (wakil bupati), ibarat orang berjalan sudah paham dengan semua rambu-rambu, tinggal lempeng saja.”

Lalu Muslimat NU dan NU yang notabene orang tua, menjadi terminal akhir dari sosok perjuangan NU yang harus aplikatif di lapangan serta berusaha menyelesaikan masalah keumatan .

“NU secara organisasi harus bisa mengayomi semua agar tetap adem dalam menjaga ahlussunnah wal jamaah. Sebagai orang tua tetap menjaga kewibawaan dan harga diri secara organisatoris,” paparnya.

Kiai Hasyim, lanjut Kartika, juga selalu mem-back up penuh kader-kader kebanggaannya yang sudah lulus tes dalam ke-NU-an dan wawasan perjuangan keumatan.

“Abah akan back-up total, mulai pemikiran, materi/finansial dan tenaga. Yang ditekankan Abah adalah kader NU harus anfauhum linnas kepada seluruh umat dan bangsa, rahmatan lil alamin,” tuntasnya.