Beda dengan Tropodo, Dekan UB: Telur Ayam di Malang Aman!

TELOR AMAN DIKONSUMSI: Pemeliharaan unggas dengan penerapan good farming practices. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR
TELUR AMAN DIKONSUMSI: Pemeliharaan unggas dengan pola good farming practices. | Foto: Barometerjatim.com/ABDILLAH HR

MALANG, Barometerjatim.com – Temuan para peneliti dari jaringan kesehatan lingkungan global The International Pollutants Elimination Network (IPEN), rupanya menjadi perhatian Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa.

IPEN, dalam laporan berjudul Plastic Waste Poisons Indonesia’s Food Chain yang dikutip dari The Guardian, Jumat (15/11/2019), menyebut sampah plastik telah meracuni pangan di Desa Tropodo di Kabupaten Sidoarjo.

Dari hasil penelitian itu ditemukan, ayam yang mencari makan di sekitar tumpukan sampah plastik di Desa Tropodo, menghasilkan telur yang memiliki tingkat kontaminasi racun dioksin terparah sedunia.

Tingkat dioksin dalam telur ayam itu sama dengan telur yang ditemukan di Bien Hoa, Vietnam, yang dianggap sebagai salah satu lokasi paling terkontaminasi dioksin di bumi.

Nah, beberapa hari setelah temuan IPEN bersama Asosiasi Arnika dan beberapa organisasi lokal, Khofifah merespons dengan melakukan kunjungan ke sentra peternakan ayam petelor di Kecamatan Tumpang, Malang, Minggu (17/11/2019).

Turut mendampingi Khofifah, yakni Dinas Peternakan (Disnak) Jatim, bupati Malang serta Dekan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB) Malang, Prof Suyadi.

Kunjungan difokuskan di peternakan milik H Kholik yang memiliki populasi sekitar 300 ribu ekor ayam, dengan produksi telur sekitar 14 ton/hari atau setara 210 ribu butir/hari.

Usai mendampingi Khofifah melakukan kunjungan, Suyadi menyampaikan bahwa telur-telur yang dihasilkan di peternakan seperti milik H Kholik aman untuk dikonsumsi masyarakat. Apalagi ditempat ini diproduksi dengan sistem industri yang mementingkan input, proses dan output.

“Ketika kita lihat di sini, tidak ditemukan adanya proses pembakaran sampah plastik seperti yang ditemukan di Tropodo. Ditambah lagi karena di sini menggunakan pakan komersial, sehingga terjamin mutu dan kualitasnya,” jelasnya.

Menurut Suyadi, produksi telur ayam di peternakan ayam untuk komersial selalu menggunakan sistem industri. Input pakan, air minum, dan juga udara sangat penting sebagai faktor output produksi telur.

“Teknik produksi antara ayam kampung dengan ayam komersial beda. Untuk ayam petelor komersial apa yang dihasilkan ayam adalah akumulasi yang masuk tubuh, pakan, air, dan udara. Kita lihat disini, tidak ada pembakaran signifikan,” urainya.

Selalu Jaga Mutu

Pakan ayam petelur komersial, lanjut Suyadi, selalu menjaga mutu. Dan bahan-bahan yang digunakan mulai air minum, pakan ayam sangat dijaga hati-hati karena ayam sangat peka.

“Maka saya yakin peternak di sini juga tidak berani merubah kompoisisi air minum, vitamin dan pakan karena akan sensitif pada hasil telur,” nilainya.

Sedangkan untuk temuan IPEN terkait temuan kasus di Tropodo, adalah ayam kampung yang hasil telurnya non komersil dan lokasinya dekat dengan pembakaran sampah.

Senyawa dioksin yang ditemukan di Tropodo, jelas Suyadi, adalah senyawa yang merupakan racun karena sulit dicerna dalam metabolisme tubuh. Biasanya senyawa tersebut terkontaminasi dari hasil pembakaran yang tidak sempurna dari limbah plastik.

“Yang dari pembakaran itu, asapnya menguap, terhirup dan terakumulasi dalam tubuh. Nah untuk ayam komersial beda. Yang dalam tubuh adalah akumulasi yang masuk tubuh, lewat pakan, air, dan udara,” katanya.

“Dari situ kami berikan informasi kondisi peternakan ayam di sini ini terpisah dari kontaminan. Maka hasil poduksi telurnya aman,” pungkasnya.

» Baca Berita Terkait Khofifah