Bawa Kado Ayam Jago, Alumni GMNI Dukung Khofifah-Emil

PILIH KHOFIFAH-EMIL: Alumni GMNI yang tergabung dalam Kiper Nasionalis Jatim (KNJ) deklarasi dukungan untuk Khofifah-Emil di Rumah Aspirasi, Surabaya, Minggu (29/4). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
PILIH KHOFIFAH-EMIL: Alumni GMNI yang tergabung dalam Kiper Nasionalis Jatim (KNJ) deklarasi dukungan untuk Khofifah-Emil di Rumah Aspirasi, Surabaya, Minggu (29/4). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Semakin mendekati pemungutan suara, semakin komplet saja dukungan untuk Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak. Tak hanya ‘kelompok hijau’, ‘barisan merah’ juga ramai-ramai merapat ke pasangan Cagub-Cawagub Jatim nomor urut satu tersebut.

Minggu (29/4) malam, bertempat di Rumah Aspirasi Jalan Diponegoro, Surabaya, alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang tergabung dalam Kiper Nasionalis Jatim (KNJ) melakukan deklarasi dukungan sekaligus pemenangan untuk Khofifah-Emil.

Kehadiran mereka disambut Emil bersama sejumlah tim pemenangan. Di antaranya KH Roziqi (ketua), KH Zahrul Azhar As’ad alias Gus Hans (juru bicara) serta Ari Kusuma (ketua Sekber relawan).

• Baca: Di Rumah Aspirasi, Khofifah Beber “Nawa Bhakti Satya”

Selain ikrar dukungan, KNJ juga memberikan suprise untuk Emil berupa ayam jago. Kado khusus ini disimbolkan bahwa bupati Trenggalek (non aktif) tersebut adalah petarung dan harus bertarung untuk memenangi kontestasi di Pilgub Jatim 2018.

“Lewat dukungan kiper yang didominasi alumni GMNI, kami ingin menunjukkan bahwa nasionalis tak hanya milik satu kelompok, tapi milik semua orang dan golongan,” tutur Ketua KNJ, Theresia Debora Sibarani.

Pernyataan Rere — sapaan akrabnya —  diperkuat dengan kehadiran serta dukungan dari KH Thoriq bin Zaid bin Darwis (Gus Thoriq). Pengasuh Ponpes Babussalam, Kabupaten Malang yang juga pencetus Hari Santri Nasional itu merupakan alumnus GMNI, sekaligus ketua Kiper Jatim Bersatu (KJB).

“Kita sangat sayang organisasi (PA GMNI), tidak jual murah, tidak seperti ‘sebelah’. Kalau sebelah ini kan sangat mudah menjual nama organisasi. Tapi kami alumni GMNI, itu iya!”

Alumni GMNI ini muncul, tambah Rere, karena punya kecintaan terhadap Khofifah-Emil, terutama setelah mereka melihat sembilan program pokok dalam Nawa Bhakti Satya. “Semua program yang ada di Nawa Bhakti Satya ini sangat mengena kepada masyarakat, termasuk penguatan ekonomi kerakyatan,” katanya.

Saat ditanya, bukankah secara ideologis alumni GMNI segaris dengan Soekarno tapi mengapa tidak mendukung Puti Guntur yang notabene cucu Soekarno?

“Oke. Kita ini bicara masyarakat luas, bukan hanya soal struktur cucu biologis. Lagi pula ideologi kami adalah bicara komitmen untuk masyarakat dan itu yang dimiliki Khofifah-Emil,” tandasnya.

“Sekali lagi, ideologi Soekarno bukan hanya milik satu golongan. Maka siapa yang punya darah idologi yang sama, marhaenisme, harus kita dukung dan Khofifah-Emil memiliki itu. Keduanya sangat berpihak pada rakyat kecil,” tandas Rere.

• Baca: Survei: Gaya Debat Emil Lebih Disukai Ketimbang Puti

Gus Thoriq menambahkan, mereka yang memberi dukungan ini alumni GMNI yang sudah matang secara ideologi. “Kami berhak mengklaim sebagai Soekarnois, karena Soekarno juga menyebut ada anak biologis, ada pula anak ideologis,” katanya.

Justru, sambung Gus Thoriq, saat ini keberadaannya yang sangat diharapkan masyarakat adalah anak-anak ideologis Soekarno yang mampu memperjuangkan rakyat kecil agar bisa hidup sejahtera, serta sesuai amanat para pejuang kemerdekaan.

“Tidak menjamin anak biologis akan seideologi dan kualitasnya sederajat dengan orang tuanya. Makanya Soekarno betul-betul berpesan tentang ideologi kepada pura-putri bangsa, bukan hanya kepada putra-putrinya,” paparnya.

Satu Kekuatan

SATU KEKUATAN: Emil Dardak, Theresia Debora Sibarani (tengah) dan KH Thoriq bin Zaid bin Darwis. Religiusitas dan nasionalisme menjadi satu kekuatan di Jawa Timur. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
SATU KEKUATAN: Emil Dardak, Theresia Debora Sibarani (tengah) dan KH Thoriq bin Zaid bin Darwis. Religiusitas dan nasionalisme menjadi satu kekuatan di Jawa Timur. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

KNJ dan KJB, tambah Gus Thoriq,  melihat Khofifah-Emil mewakili ideologi Soekarno. “Maka harus dan wajib kita perjuangkan kemenangannya, karena kemenangan Khofifah-Emil akan berdampak luas terhadap kesejahteraan masyarakat Jawa Timur,” ucapnya.

Gus Thoriq juga menegaskan dukungan ini tidak membawa alumni GMNI secara organisasi (PA GMNI). “Tidak lah, kita sangat sayang organisasi, tidak jual murah, tidak seperti ‘sebelah’. Kalau sebelah ini kan sangat mudah menjual nama organisasi. Tapi kami alumni GMNI, itu iya!” tegasnya.

• Baca: Purnawirawan TNI-Polri Kawal Suara Khofifah-Emil di TPS

Sementara Emil mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan dan kado ayam jagonya. “Ini simbol yang dahsyat: Ini bertarung Bung! Kita bertarung Bung! karena ini nasib rakyat, ini bukan mainan. Ini nyata dan yang kita lakukan di sini adalah ikhtiar dengan segala kerendahan hati,” paparnya.

Bagi Emil, dukungan alumni GMNI sangat penting untuk memastikan, bahwa kemenangan Khofifah-Emil di Pilgub Jatim 2018 nanti juga diwarnai kelompok nasionalis.

“Kita ingin pemerintahan mendatang bisa memperjuangan aspirasi kaum Nahdliyin, agamis, nasionalis, semua menjadi satu. Jatim adalah bertemunya religiusitas dan nasionalisme menjadi satu,” tuntasnya.