‘Banjir’ Kandidat, Propaganda Calon Tunggal Tak Relevan

TOLAK CALON TUNGGAL: Jatim tak kekurangan kandidat untuk bersaing di Pilgub Jatim. Tak ada kebutuhan untuk menampilkan calon tunggal. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Upaya mengusung calon tunggal di Pilgub Jatim 2018 tak lagi sebatas wacana, tapi sudah mengarah pada propaganda untuk memuluskan bakal pencalonan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang hampir pasti diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Sedihnya lagi, Gubernur Soekarwo, atas nama ketua DPD Partai Demokrat Jatim ikut-ikutan menjadi ‘bagian dari skenario’ yang justru bisa mencederai semangat demokrasi partisipatoris dalam konteks politik elektoral.

Dalih Soekarwo beberapa waktu lalu, “Karakter politik di Jatim guyub, rukun dan santun. Karena semua kepentingan di Jatim bisa dibicarakan dengan baik-baik tanpa gontok-gontokan.”

Lantaran ada ‘skenario’ memuluskan Gus Ipul memimpin Jatim pasca Soekarwo tanpa kompetisi, suara penolakan propaganda calon tunggal pun kian nyaring terdengar.

• Baca: Nyono Kunjungi Khofifah dan Makna Lima Tusuk Sate

Setelah Anwar Sadad (sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim), menyusul Arif Hari Setiawan (ketua DPW PKS Jatim) dan La Nyalla Mattalitti (ketua Kadin Jatim), kini penolakan serupa dilontarkan CEO Lembaga Suvei The Initiative Institute, Airlangga Pribadi Kusman.

“Wacana calon tunggal itu sebetulnya tidak relevan apabila kita kaitkan dengan, misalnya, hasil beberapa lembaga survei terakhir yang muncul. Salah satunya lembaga saya, The Initiative Institute,” kata Airlangga di sela buka puasa bersama di salah satu hotel di Surabaya, Sabtu (17/6) malam.

Dalam survei The Initiative Institute, kata pengajar di Departemen Politik di FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya tersebut, justru memunculkan beberapa nama yang sangat kompetitif dengan dukungan publik cukup bersaing.

• Baca: Gus Ipul Minta Dukungan, Nyono Tegaskan Muslimat juga NU

“Gus Ipul memang masih teratas, 33 persen, tapi langsung diikuti Bu Khofifah di kisaran 28 persen dan Bu Risma, 36 persen. Di bawahnya juga ada calon dengan dukungan signifikan sebagai kuda hitam, Abdullah Azwar Anas,” terangnya.

Perolehan suara hasil survei The Initiative Institute, tambah Airlangga, menunjukkan kompetitifnya bakal calon di Pilgub Jatim 2018. “Artinya, baik petahana Gus Ipul, Khofifah dan Risma maupun Azwar Anas persaingannya cukup ketat,” tandasnya.

“Ini menunjukkan stok pemimpin yang berpotensi menjadi gubernur cukup banyak. Jatim tak kekurangan calon kandidat yang bisa bersaing. Nah dari situ tidak ada kebutuhan untuk menampilkan calon tunggal.”

Pilgub dalam konteks aklamasi atau calon tunggal, papar Airlangga, muncul ketika tidak ada calon lain yang bisa bersaing atau mendapat dukungan yang kuat. ”Tapi ini persaingannya sangat kuat,” katanya.

• Baca: Hasan Aminuddin: Parpol di Indonesia Tak Hanya PKB

Justru bagi elit dan kekuatan Parpol yang menilik hasil beberapa lembaga survei serta masih komitmen mendengarkan suara rakyat, harus membuat kanal politik untuk memunculkan beragam calon . “Sehingga para calon favorit yang potensial mendapat saluran politik,” ujarnya.

Karena itu, Airlangga melihat kecil peluang propaganda calon tunggal di Pilgub Jatim 2018 bisa terwujud. “Kemungkinannya kecil. Tentu Parpol lain akan melihat bukan hanya satu kandidat yang pantas menjadi gubernur, di situ nanti akan terjadi dukungan politik yang beragam dari partai,” katanya.

Apalagi kalau bicara dalam konteks demokrasi partisipasitoris yang mempetimbangkan suara rakyat. “Sudah semestinya Parpol yang komitmen dengan suara rakyat membuka ruang untuk menyalurkan kandidat potensial, agar bisa bersaing lebih sehat dalam politik elektoral seperti Pilgub,” tegasnya.