Ayah Kiai Asep Dinilai Layak Dapat Gelar Pahlawan Nasional

PUTRA PEJUANG: KH Asep Saifuddin Chalim, ayahnya KH Abdul Chalim Leuwimunding berperan besar dalam mengingatkan konsep Indonesia merdeka. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
PUTRA PEJUANG: KH Asep Saifuddin Chalim, ayahnya KH Abdul Chalim Leuwimunding berperan besar dalam mengingatkan konsep Indonesia merdeka. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Banyak kiai alim Nahdlatul Ulama (NU) berperan besar dalam kemerdekaan Indonesia. Tapi tak banyak yang mengusulkan mereka untuk dianugerahi gelar pahlawan nasional, agar menjadi referensi keteladanan bangsa.

Satu di antaranya KH Abdul Chalim Leuwimunding, seorang alim dari Cirebon, Jawa Barat yang menjadi salah satu pendiri NU awal yang namanya terabadikan dalam dokumen kepengurusan NU. Setelah NU didirikan pada 26 Januari 1926, Kiai Chalim menjabat katib tsani — katib awwal dijabat KH Wahab Chasbullah.

Menilik  perjuangan dan pengorbanan untuk bangsanya sepanjang waktu tanpa cacat, Gubernur Jatim terpilih, Khofifah Indar Parawansa menilai ayahanda pengasuh Ponpes Amanatul Ummah Mojokerto, KH Asep Saifuddin Chalim itu layak mendapat gelar pahlawan nasional.

• Baca: Hari Ini 6 Pahlawan Nasional Ditetapkan, Tak Ada dari Jatim

“Tapi harus ada yang mengusulkan, karena syarat menjadi pahlawan nasional itu ada pengusul, diskusi, tulisan. Seperti Kiai Chalim, ayahanda Kiai Asep. Kalau dari kejuangan, luar biasa, tapi beliau kan nutupi,” kata Khofifah di Surabaya, Selasa (20/11).

Mantan Menteri Sosial itu menambahkan, bukan karena Kiai Asep ingin ayahnya menjadi pahlawan, tapi bangsa ini memang butuh referensi keteladanan.

“Kalau menulis sebagai pahlawan nasional, rasanya kok tidak akan menggugurkan pahala-pahala beliau, karena bangsa ini memang butuh keteladanan,” tandas Khofifah.

• Baca: Profil Singkat 6 Tokoh Penerima Gelar Pahlawan Nasional

Merujuk Undang-Undang (UU) No 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan, kategori pahlawan nasional adalah orang yang berjuang dan berkorban, tidak mengenal waktu sepanjang hidupnya dan tidak ada cacatnya.

“Seseorang baru diketahui tanpa cacat setelah wafat dalam catatan sejarah, yang sudah melalui diskusi di tingkat II, I maupun pusat, bahwa layak untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional,” kata Khofifah.

Maka setiap tahun, lanjut perempuan yang juga ketua umum PP Muslimat NU itu, akan diterbitkan buku tentang pahlawan nasional, karena setiap tahun jumlahnya bertambah.

• Baca: Keputusan Gelar Pahlawan Gus Dur di Tangan Jokowi

Tahun ini misalnya, pemerintah menetapkan enam tokoh sebagai pahlawan nasional, yakni Abdurrahman Baswedan, Agung Hajjah Andi Depu, Depati Amir, Mr Kasman Singodimedjo, Pangeran Mohamad Noor, serta Brigjen KH Syam’un.

Dari situ, kata Khofifah, bisa diketahui kontribusi NU dalam revolusi kemerdekaan, pasca kemerdekaan, dan pada saat mengisi pembangunan. Menurutnya, ini harus tulis dan diusulkan.

“Kalau tidak, orang tidak tahu. Antara ikhlas, syiar dan riya’ ini memang harus kita tempatkan pada posisi yang proporsional,” jelasnya.

• Baca: ‘Kado’ 44 Juta Suara dari Khofifah-Kiai Asep untuk Jokowi

Sementara Kiai Asep saat ditanya soal dorongan Khofifah agar ada yang mengusulkan Kiai Chalim menjadi pahlawan nasional, memilih menyerahkan semuanya kepada bangsa dan negara, termasuk mempersilakan jika ada yang mengusulkan.

“Ya mungkin bisa diproses. Tapi kan juga harus ada kepanitiaan yang menyusun bukunya, kalau referensinya ada. Kebetulan anak saya juga menulis disertasi tentang itu,” katanya.

Konsep Indonesia Merdeka

Dari sekian perjuangan Kiai Chalim untuk bangsa, salah satu yang terpapar yakni perannya dalam mengingatkan konsep Indonesia merdeka yang sempat terlupakan di awal pendirian NU.

Kepada Barometerjatim.com, Kiai Asep menceritakan, ayahnya dahulu memang penggagas dan komunikator dalam pendirian NU yang dipacu lewat Komite Hijaz (1924-1925).

Sebuah kepanitiaan yang akan dikirim ke Hijaz, Madinah, untuk meminta kepada Raja Ibnu Saud dan penguasa Hijaz, Syarif Husen agar tidak memusnahkan situs-situs Islam, termasuk makam Nabi Muhammad Saw.

• Baca: 3 Bulan Lagi Dilantik, Khofifah Diwejang Kiai Karismatik Jateng

“Oleh Kiai Wahab (Chasbullah) dan Abah saya, kesempatan itu digunakan juga untuk membentuk jamiyah NU. Jamiyah kiai-kiai pesantren besar, dengan juga dimasukkan tentang pentingnya bagaimana kita mengirimkan usulan kepada Raja Saud,” tuturnya.

Surat untuk mengumpulkan para kiai besar kemudian dibuat. Kiai Chalim, saat itu sekretaris Nahdlatul Wathan (NW), yang menulis surat serta didiskusikan dengan Kiai Wahab (ketua NW).

Namun saat itu ada konsep yang terlupakan tentang Indonesia merdeka. “Ayah saya bilang: Lho kenapa kok di dalamnya tidak ada Indonesia merdeka. Maka Kiai Wahab mengatakan, justru itu yang paling utama,” kata Kiai Asep.

• Baca: Bingung Pilih Capres? Khofifah: Simak Lagi Syi’ir Tombo Ati

Kemudian dibuatlah undangan ke para kiai besar, untuk kepentingan mengirim surat ke Hijaz dan mempersiapkan Indonesia merdeka. “Koordinator pengirimannya adalah ayah saya, karena ayah saya waktu itu masih muda tetapi punya data tentang Nahdlatul Wathan,” ujarnya.

Ulama besar yang dikirimi surat saat itu semuanya datang. Lalu dibentulah panitia Komite Hijaz untuk meminta penguasa di sana, agar tidak memusnahkan situs-situs Islam, termasuk makam Rasulullah Saw.

Kepanitiaan terbentuk. KH Asnawi dari Kudus, Jawa Tengah, terpilih sebagai ketua, tapi kemudian pelaksanaannya diserahkan ke Kiai Wahab.

• Baca: Khofifah-JKSN Siap Rebut Kemenangan untuk Jokowi di Jabar

Lalu ada pemikiran bersama, lembaga apa yang akan mengirim utusan ke Hijaz. Kalau NW tidak mungkin, sedangkan kalau atas nama komite bisa dianggap bukan lembaga besar. Maka tercetuslah yang mengutus adalah jamiyah NU.

“Nahda diambilkan dari Nahdlatul Wathan, ulama karena yang berkumpul saat itu adalah para ulama,” terang Kiai Asep.

Pendiri NU 65 Ulama

SEDERHANA: Makam KH Abdul Chalim terletak di pekarangan rumah keluarga di Desa Leuwimunding, Cirebon, Jawa Barat. | Foto: IST
SEDERHANA: Makam KH Abdul Chalim terletak di pekarangan rumah keluarga di Desa Leuwimunding, Cirebon, Jawa Barat. | Foto: IST

Jadi kalau berbicara berapa sebenarnya jumlah pendiri jamiyah NU, menurut Kiai Asep, para ulama yang berkumpul saat itulah para pendiri NU.

“Ada yang berpendapat 65, karena jumlah yang di Nahdlatul Wathan itu 65 yang oleh ayah saya dimintai mengirimkan surat ke sana kemari itu. Tapi ada yang mengatakan 50, karena mungkin dari 65 itu ada yang tidak hadir,” kata Kiai Asep.

• Baca: Deklarasi JKSN Jateng Dihadiri Kiai, Wali Kota hingga Bupati

Ketika dibentuk NU yang pertama, Hadratussyaikh KH Hasyim Asya’ri sebagai Rais Akbar, KH Ahmad Dahlan (Surabaya) sebagai Wakil Rais Akbar, KH Wahab Chasbullah sebagai Katib Awwal dan KH Abdul Chalim Leuwimunding sebagai Katib Tsani.

“Peristiwa inilah yang semestinya menjadi sebuah peristiwa yang ayah saya, menurut Bu Khofifah, harus dijadikan pahlawan nasional,” pungkas Kiai Asep.

» Baca Berita Terkait Pahlawan Nasional, Nahdlatul Ulama