Andai PDIP Duetkan Whisnu-Eri, Pengamat: Pasangan Lemah!

JAGOAN PDIP?: Whisnu dan Eri Cahyadi, dinilai pasangan lemah di Pilwali Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
JAGOAN PDIP?: Whisnu dan Eri Cahyadi, dinilai pasangan lemah di Pilwali Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Rekomendasi DPP PDIP di Pilwali Surabaya 2020 dikabarkan sudah diturunkan ke kader organiknya, Whisnu Sakti Buana — meski wakil wali kota Surabaya tersebut menepis telah mengantonginya.

Kalaupun rekomendasi akhirnya diberikan ke Whisnu, sesuai Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU), calon yang didaftarkan harus berpasangan. Lantas siapa yang disiapkan DPP PDIP untuk mendampingi Whisnu?

Spekulasi yang berkembang, Whisnu yang juga Wakil Ketua DPD PDIP Jatim Bidang Organisasi, bakal ditandemkan dengan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Eri Cahyadi — disebur-sebut sebagai ‘anak emas’ Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini alias Risma.

Andai benar Whisnu-Eri dipasangkan PDIP di Pilwali Surabaya 2020, Pengamat Politik dari Lembaga Transformasi (Eltram), Moch Mubarok Muharam menilai pasangan ini lemah untuk memenangi kontestasi.

Pasangan ini akan lemah, karena pada dasarnya kubu Risma dan Whisnu tidak ketemu,” ujar aktivis ’98 lulusan FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya tersebut.

“Seandainya dipaksakan, hanya untuk kepentingan sesaat agar kedua kubu terakomodir dalam Pilwali. Kubu Whisnu menjadi calon wali kota, dan kubu Risma yaitu Eri terakomodir menjadi calon wakil wali kota,” sambungnya.

Bagi Mubarok, ‘kawin paksa’ Whisnu dan Eri bisa jadi pilihan paling kompromis, lantaran PDIP tidak ingin kehilangan momen di 9 Desember 2020 untuk menjaga Surabaya tetap menjadi salah ‘kandang banteng’ di Tanah Air.

“Itu sebenarnya keterpaksaan, karena kedua kubu tidak ingin kehilangan. ‘Kawin paksa’ ini berat, karena untuk membangun image sebelumnya tidak ada luka itu sangat berat,” katanya.

“Walaupun tidak pernah bekerja sama, paling tidak, tidak ada luka antardua kubu berkoalisi itu kan?” tandasnya.

Terbalut ‘Perang Dingin’

KRITISI FAKSI PDIP: Mubarok Muharam, tak gampang menyatukan faksi Whisnu-Risma di Pilwali Surabaya. | Foto: IST
KRITISI FAKSI PDIP: Mubarok Muharam, tak gampang menyatukan faksi Whisnu-Risma di Pilwali Surabaya. | Foto: IST

Seperti diketahui, kekuatan PDIP menyambut Pilwali Surabaya terpecah dalam tiga faksi besar, yakni kubu Bambang DH (mantan wali kota Surabaya), Risma, dan Whisnu yang sulit disatukan dalam sekejap.

Ketiga faksi tersebut, terang Mubarok, memang tidak terlibat konflik di permukaan. Tapi semua pihak merasakan ada ‘perang dingin’ di kandang banteng. Paling terlihat, Risma terkesan tidak memberi peluang Wisnu berperan sebagai wakil wali kota.

“Walaupun konflik tidak muncul di permukaan, tapi kan semua pihak tahu kalau ada konflik perang dingin. Kondisi perang dingin tidak bisa dipersatukan dalam waktu sekejap, sementara momen Pilwali hanya lima tahun,” katanya.

Sebelumnya, Whisnu menegaskan hingga saat ini belum ada keputusan resmi dari DPP PDIP terkait rekomendasi di Pilwali Surabaya. “Mohon jangan gaduh dulu,” pintanya, Sabtu (4/7/2020).

“Saya secara pribadi tetap tunduk, patuh dan tegak lurus kepada keputusan resmi DPP PDI Perjuangan dan Ketua Umum Ibu Megawati Soekarnoputri,” tandasnya.

Hal sama disampaikan kader PDIP yang anggota DPRD Jatim, Armuji. “Saya tidak mau berkomentar, iya toh. Tapi yang jelas sampai saat ini rekom pun belum ada,” ucapnya.

» Baca Berita Terkait Pilwali Surabaya