Alih-alih Diapresiasi, Hasil Ramalan Malah Dikritik Tajam

SEBATAS MENGGABUNGKAN INDIKATOR: Gabungan indikator yang dipakai Berpikir Institute dalam meramal elektabilitas kandidat Cagub Jatim 2018. | Foto: Barometerjatim.com/BAYAN AR

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sudah jamak, setiap jelang hajatan Pilkada, tak terkecuali Pilgub Jatim 2018, sejumlah lembaga survei ramai-ramai merilis lebih dini hasil surveinya.

Tapi, sedihnya, analisa yang bersifat peramalan (analisis forecasting) kadang ‘disamarkan’ seolah-olah hasil survei. Terlebih lagi metodologi yang dipakai jauh dari label akademik dan terkesan asal-asalan.

Rabu (12/4), bertempat di Rumah Makan Sari Nusantara, Jl Gubernur Suryo, Surabaya, lembaga kajian politik di Surabaya, Berpikir Institute merilis Hasil Analisis Forecasting Peta Politik Menjelang Pilgub Jatim 2018.

Alih-alih mendapat apresiasi, Dosen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Novri Susan yang diundang sebagai pembicara malah mengkritik tajam hasil ramalan Berpikir Institute. Salah satunya terkait data sekunder yang dipakai.

Semula, saat pemaparan, Direktur Eksekutif Berpikir Institut, Romel Masykuri dengan percaya diri tinggi mengatakan bahwa metodologi risetnya menganalisa data skunder. Analisa itu dilakukan mulai Febuari sampai April 2017.

• Baca: Pakai Data Sekunder, Ada Apa dengan Berpikir Institute?

Data yang dianalisa berasal dari sumber resmi kementerian, hasil survei yang disebutnya kredibel dalam rentang waktu 2004 hingga 2016, serta berdasarkan rekam jejak figur dari analisa media massa, serta analisa persepsi elit politik dari hasil wawancara di media massa.

Untuk mendapatkan hasil analisanya, Berpikir Institut membuat grafik indikator inkumbensi, analisa inkumbansi, indikator dan analisa popularitas, indikator basis dukungan serta indikator penerimaan parpol.

“Kemudian kami menggabungkan semua indikator itu. Hasilnya Wakil Gubernur Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memiliki nilai tertinggi yaitu 7.9375,” kata Romel.

Posisi kedua ada nama Khofifah Indar Parawansa (7.479166667), disusul Abdullah Azwar Anas (6.916666667) serta Tri Rismaharini (6.854166667).

“Dari semua data itu, kami menarik kesimpulan forescasting (ramalan) kandidat, pertama, melihat jumlah partai di DPRD Jatim dan perolehan kursinya, terdapat tiga skenario efektif, koalisi dua partai dan lebih dari dua partai untuk mengusung pasangan calon,” paparnya.

Ramalan kedua, semua kandidat memiliki kekuatan dan kelemahan. Dalam hal ini, partai bisa menjadi variabel bahan pembanding seperti jejak inkumbensi, popularitas, basis dukungan dan penerimaan partai.

METODOLOGI LEMAH: Direktur Eksekutif Berpikir Institut, Romel Masykuri. Ramalan politiknya didasari metodologi yang lemah. | Foto: Barometerjatim.com/BAYAN AR

Ketiga, dari crossing antarvariabel, didapat delapan alternatif kandidat yang mempunyai kekuatan dalam irisan-irisan variabel yang ada, yaitu Saifullah, Khofifah, Anas dan Risma serta beberapa nama lain di antaranya Bupati Ngawi Budi Sulistiyono dan Bupati Bojonegoro Suyoto.

“Keempat, dilihat dari keragaman calon potensial, yang mana pemilik poin tertinggi adalah kader non partai, maka partai pengusuang idealnya berkoalisi dengan partai serumpun dan koalisi besar lintas ideologi. Potensi menang bagi partai pengusung calon sendiri, sangat rendah,” tandas Romel.

• Baca: Dikritik, Bos Berpikir Institute Hanya Manggut-manggut

Nah, giliran Novri Susan memberikan komentar, bukan apresiasi tinggi yang diberikan, justru kritik tajam. Poin dari kritik Novri, meski riset tersebut mampu memberi gambaran siapa calon gubernur yang akan dipilih masyarakat, tapi belum bisa dipertanggungjawabkan hasilnya karena menggunakan data sekunder.

“Ini (metodologi) sangat vital, karena suatu hasil bisa dipertanggungjawabkan dan bisa merepresentasikan kualitas berdasarkan pada metode,” tegasnya.