Ainun Ajak Pilih Muhdlor-Subandi, Astutik: Enggak Ngefek!

ENGGAK NGEFEK: Dwi Astutik, video ajakan Ainun Jariyah pilih Muhdlor-Subandi tak ngefek. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
ENGGAK NGEFEK: Dwi Astutik, video ajakan Ainun Jariyah pilih Muhdlor-Subandi tak ngefek. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SIDOARJO, Barometerjatim.com – Video berdurasi sekitar 25 detik Ainun Jariyah yang mengajak memilih pasangan nomor urut dua di Pilbup Sidoarjo 2020, Ahmad Muhdlor Ali-Subandi menarik perhatian.

Maklum, meski sebagai kader PKB — Parpol pengusung Muhdlor-Subandi — Ainun juga ketua PC Muslimat NU Sidoarjo. Sementara Wakil Sekretaris PW Muslimat NU Jatim, Dwi Astutik juga ikut berkontestasi di ajang ini, berpasangan dengan Kelana Aprilianto.

“Saya Ainun Jariyah. Masyarakat Sidoarjo cerdas memilih, pilih nomor dua Muhdlor Ali-Subandi,” katanya dalam video yang berlatar belakang logo PKB itu.

Menanggapi video tersebut, Astutik bisa memaklumi karena Ainun selain sebagai ketua PC Muslimat NU juga anggota DPRD Sidoarjo dari Fraksi PKB.

“Saya memaklumi situasi itu, tapi Mbak Ainun ini secara hati nurani saya yakin ke Dwi Astutik. Saya enggak ngomong Berkelas (Bersama Kelana-Dwi Astutik) ya, tapi ke Dwi Astutik,” tandasnya di Waru, Sidoarjo, Selasa (6/10/2020).

Mengapa begitu yakin? Sebab, menurut Astuti, dirinya berada di kepengurusan pimpinan wilayah sebagai wakil sekretaris PW Muslimat NU dan wakil ketua Yayasan Pendidikan Muslimat NU.

“Jadi Mbak Ainun, insyaallah hati nurani itu ke saya. Cuma karena, mungkin ya kondisi, biasa dalam politik itu tekan menekan. Saya memaklumi situasi itu, beliau selaku pengurus cabang Muslimat NU dan juga anggota DPRD Sidoarjo dari PKB,” paparnya.

Belajar dari Khofifah

PILBUP SIDOARJO: Ainun Jariyah ajak pilih Muhdlor-Subandi di Pilbup Sidoarjo. Ngefekkah?| Foto: Capture Video/IST
PILBUP SIDOARJO: Ainun Jariyah ajak pilih Muhdlor-Subandi di Pilbup Sidoarjo. Ngefekkah?| Foto: Capture Video/IST

Apakah ajakan Ainun tersebut bakal diikuti warga Muslimat NU? “Ah, kalau urusan ke bawah itu mah sudah urusan pribadi-pribadi ya, karena kita tidak melibatkan secara struktural organisasi Muslimat NU,” ucap Dwi.

“Jadi apa pun bahasa Mbak Ainun bagi kami enggak ngefek, karena kami sudah bergerak di 18 kecamatan. Ibu nyai, para masyayikh, sudah ke kami semua, sehingga apa yang disampaikan itu sudah enggak ngefek,” sambungnya.

Hal itu, tambah Astutik, juga bisa dilihat saat Pilgub Jatim 2018. Waktu itu Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa tidak didukung ketua atau bahkan pengurus di level cabang yang berpartai PKB tapi tetap menang.

“Saya bersyukur ya, Muslimat NU ini sangat luar biasa. Para ibu nyai di level apa pun, cabang, ranting, anak ranting, itu sudah mengalami pendidikan politik sejak lama,” kata Astutik.

Proses politik dialami di tiga periode Pilgub Jatim (2008, 2013 dan 2018) dengan memperjuangkan ketua umumnya, serta dua kali andil besar memenangkan Joko Widodo (Jokowi) di dua kali Pilpres (2014 dan 2019).

“Ini adalah proses demokrasi. Masyarakat, emak-emak, ibu-ibu Muslimat NU sudah terkondisikan dengan baik, dan itu pendidikan politik yang sangat berharga dari kehidupan nyata,” tuntas Astutik.

» Baca Berita Terkait Pilbup Sidoarjo