Adik Amrozi: Tak Gampang Mereduksi Paham Radikal!

HUT RI: Peserta upacara HUT ke-74 RI di Desa Tenggulung, Solokuro. | Foto: Barometerjatim.com/HAMIM ANWAR
HUT RI: Peserta upacara HUT ke-74 RI di Desa Tenggulung, Solokuro, Lamongan. | Foto: Barometerjatim.com/HAMIM ANWAR

LAMONGAN, Barometerjatim.com – Mantan instruktur perakit bom Jamaah Islamiyah wilayah Indonesia timur, Ali Fauzi mengakui hingga kini tensi ancaman terorisme di Tanah Air belum sepenuhnya turun. Solusinya?

“Kita yang ada di lingkar perdamaian ini perlu sinergitas dengan BNPT, TNI dan Polri. Karena tidak gampang mereduksi ideologi atau pemahaman radikalisme,” katanya usai mengikuti upacara peringatan HUT ke-74 RI di Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan, Sabtu (17/8/2019).

Adik kandung Amrozi — terpidana mati peristiwa bom bali 2002 — itu pun mengajak masyarakat yang masih terpapar pemahaman radikal, untuk mengubah cara dakwah yang menebarkan kebencian terhadap aparat TNI/Polri menjadi dakwah yang lebih halus dan cinta damai.

“Mari kita afirmasi (teguhkan diri) dengan mengasah intelektual kita. Bahwa perjuangan harus tetap jalan, tapi tentu dengan aroma dan nuansa perjuangannya berbeda,” kata pria yang kini  menjabat direktur Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) Indonesia tersebut.

Alasan harus afirmasi, tegas Ali Fauzi, untuk mengubah orientasi perjuangan saat ini karena masih banyak lahan dakwah yang perlu digarap. Tanpa harus dengan cara membunuh, apalagi yang dibunuh anggota Polri, TNI atau aparatur negara lainnya.

“Perjuangan tidak melulu harus membunuh. Mereka baik-baik kok, kenapa harus dibunuh. Perjuangan dakwah harus lebih soft dan cinta damai,” terangnya.

Tenggulun Jadi Rujukan

DAKWAH LEBIH SOFT: Ali Fauzi, eks instruktur perakit bom Jamaah Islamiyah. | Foto: Barometerjatim.com/HAMIM ANWAR
DAKWAH LEBIH SOFT: Ali Fauzi, eks instruktur perakit bom Jamaah Islamiyah. | Foto: Barometerjatim.com/HAMIM ANWAR

Sementara Kapolres Lamongan, AKBP Feby DP Hutagalung selaku inspektur upacara mengimbau warga yang memiliki pemahaman membenci NKRI dan paham radikal, agar belajar secara detail dan komprehensif kepada guru yang diakui kapasitas dan kapabilitasnya.

“Jangan belajar konsep agama dari media sosial, atau guru yang konsepnya jelas salah yang ingin menggulingkan negara. Karena bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah final,” tuturnya.

Feby mengharapkan, apa yang dilakukan oleh mantan narapidana terorisme yang ada di Desa Tenggulun ini dapat menjadi rujukan upaya deradikalisasi secara internasional.

“Sekarang kita bisa lihat nyata, mudah-mudahan apa yang kita lakukan ini membawa dampak positif terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, dan bisa mereduksi pemahaman masyarakat yang masih antipati terhadap pemerintah,” harapnya.

Upacara peringatan HUT ke-74 RI yang digelar Polres Lamongan bersama YLP Indonesia di Tenggulun ini, diikuti puluhan mantan narapidana terorisme dan ratusan keluarganya.

» Baca Berita Terkait Radikalisme, HUT RI