Selasa, 29 November 2022
Barometer Jatim
Cloud Hosting Indonesia

6,80% Suara Muhammadiyah Bakal Mengalir ke Khofifah

Berita Terkait

POLITIK ALIRAN: Hasil survei The Initiative Institute terkait latar belakang calon pemilih yang berpolitik aliran di Pilgub Jatim 2018. | Grafis: Capture survei The Initiative Institute
- Advertisement -

SURABAYA, Barometerjatim.com – Sambutan hangat warga Muhammadiyah, serta sinyal dukungan para tokohnya untuk Khofifah Indar Parawansa saat halaqah kebangsaan PW Pemuda Muhammadiyah Jatim, Selasa (15/8), menandai politik aliran masih kental mewarnai Pilgub Jatim 2018.

Seberapa besar pengaruh suara Muhammadiyah dalam menyokong kemenangan calon gubernur? Mari kita lihat kembali survei The Initiative Institute (TII) dengan tema Kubus Rubrik Pilkada Jatim yang dirilis di Surabaya, Kamis, 20 Juli 2017 lalu.

Temuan TII, responden berlatar belakang politik aliran dari Nahdlatul Ulama (NU) masih tertinggi, 63,10 persen. Disusul Muhammadiyah (6,80 persen), Nasionalis Soekarno (24,60 persen), Nasionalis Soeharto (5,10 persen) dan Masyumi (0,40 persen).

Persentase calon pemilih dari Muhammadiyah memang tak sebesar NU. Meski kecil, tetapi bisa menjadi penentu jika calon dari kader NU yang maju lebih dari satu.

• Baca: Muhammadiyah: Khofifah Punya Kapasitas Bangun Jatim

Taruhlah Saifullah Yusuf (salah seorang ketua PBNU) jadi diusung PKB dan Khofifah (ketua umum PP Muslimat NU) memutuskan maju, atau bahkan Azwar Anas ‘ikhlas’ meninggalkan Banyuwangi, maka ketiganya harus berbagi irisan 63,10 persen.

Celah inilah yang kemudian membuat calon dari kader NU membutuhkan aliran suara warga Muhammadiyah, selain suara nasionalis yang terkonsentrasi di wilayah Mataraman.

“Siapapun pasti akan melirik suara delapan persen ini, sangat berarti dalam rivalitas yang tipis begini,” nilai Surokim, pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Bangkalan, Madura yang memperkirakan suara Muhammadiyah sekitar delapan persen.

“Rugi tidak mempertimbangkan suara ini. Dalam posisi elektabilitas yang tipis seperti ini, semua menjadi penting termasuk Muhammadiyah,” tambahnya.

Satu hal yang patut dipertimbangkan dari Muhammadiyah, kata Surokim, yakni soliditas jamaahnya dalam hal pilihan politik. “Pemilih Muhammadiyah bisa diandalkan karena relatif solid. Pemilihnya progresif yang bisa memengaruhi lingkungan dengan nalar kritis dan rasional,” tandas peneliti Surabaya Survey Centre (SSC) itu.

• Baca: Belum ‘Bertarung’, Elektabilitas Gus Ipul Malah Turun

Jika asumsi Surokim benar, maka Khofifah lebih berpotensi mendapat aliran suara warga Muhammadiyah karena mendiangnya suaminya, Indar Parawansa semasa hidupnya adalah aktivis jamiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan tersebut.

“Jadi Bu Khofifah dan Pak Indar ini Numu (NU-Muhammadiyah) atau Munu (Muhammadiyah-NU),” seloroh Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim, Prof Dr H Zainuddin Maliki MA.

Selain itu, Zainuddin secara terbuka menyebut Khofifah sebagai sosok yang bisa membawa kemajuan dan kesejahteraan untuk masyarakat Jatim.

“Saya melihat Bu Khofifah ini adalah sosok yang punya kapasitas untuk membangun Jatim berdaya dan berkeunggulan,” katanya.

PASANGAN CAGUB KADER NU: Hasil survei SSC terkait latar belakang calon wakil gubernur yang ideal berpasangan dengan calon gubernur dari kader NU. | Grafis: Capture survei SSC

Meski suara Muhammadiyah berpotensi menjadi ‘penentu’, mengacu hasil riset yang dirilis Rabu, 12 Juli 2017, SSC mencatat calon gubernur yang berduet dengan tokoh nasionalis lebih banyak didukung (24,40 persen).

Disusul Cagub kader sesama NU (16,90 persen), kader NU-Muhammadiyah (11,40 persen), kader NU-pengusaha (8,90 persen), kader NU-birokrat (5,90 persen), artis (0,40 persen) sisanya tidak tahu/tidak menjawab (32,10 persen).

• Baca: Survei: Khofifah Lewati Gus Ipul, Tinggalkan Risma

Di internal NU, Khofifah memiliki basis kuat nan solid, terutama dari ibu-ibu Muslimat NU. Di sisi lain, minus Muslimat NU dan Fatayat NU, posisi Gus Ipul relatif aman di kelompok kiai struktural, terutama PWNU Jatim (wilayah). Sayangnya tak mengakar di PCNU (cabang) dan kiai kultural serta berpotensi terpecah di level kiai kampung.

Karena itu, “Khofifah dan Gus Ipul pasti akan mati-matian merengkuh suara dari kalangan NU dan nasionalis,” tandas Surokim.

- Advertisement -
- Advertisement -

Berita Terkait

- Advertisement -

trendnews
Berita Trending Saat Ini

- Advertisement -

BERITA TERKINI

- Advertisement -