4 Alasan Kiai Pengasuh Ponpes Besar Dukung Khofifah

MEREKA MENDUKUNG KHOFIFAH: (Dari kiri atas searah jarum jam) KH Salahuddin Wahid, KH Muzakki Syah, KH Hisyam Syafaat, KH Muhammad Nashiruddin Qodir, KH Asep Saifuddin Chalim dan KH Mukhlis Muksin. | Foto: Barometerjatim.com/RADITYA DP

SURABAYA, Barometerjatim.com – Mereka kiai Nahdlatul Ulama (NU) pengasuh pondok pesantren (Ponpes) besar di Jatim. Mereka tak perlu berpolitik, apalagi minta dilibatkan Parpol dalam pembahasan bakal calon gubernur di Pilgub Jatim 2018.

Mereka memiliki cara sendiri: Cara kiai dan pesantren dalam mendukung calon pemimpin Jatim pasca kepemimpinan Soekarwo. Terlebih sejumlah kader NU disebut-sebut bakal maju di trek yang sama: Calon gubernur. Sebut saja Khofifah Indar Parawansa, Abdul Halim Iskandar, Abdullah Azwar Anas hingga Saifullah Yusuf.

Dari sejumlah kandidat tersebut, gelombang dukungan — baik yang tersirat maupun tersurat — mengarah tajam ke Khofifah yang dinilai lebih amanah, tak suka obral janji, bukan sosok cengengesan (suka bergurau yang berlebihan dengan sikap tidak sopan) serta memiliki kemampuan komplet untuk memimpin masyarakat Jatim lebih baik lagi.

• Baca: Bersaing Sesama Kader NU, Kiai Hisyam Unggulkan Khofifah

Setelah KH Salahuddin Wahid (Ponpes Tebuireng, Jombang), KH Muhammad Nashiruddin Qodir (Ponpes Daruttauhid Al Hasaniyyah, Senori, Tuban), KH Muzakki Syah (Ponpes Al Qodiri, Jember) . KH Hisyam Syafaat (Ponpes Darussalam, Blokagung, Banyuwangi) dan KH Mukhlis Muksin (Ponpes Al Anwar) kini dukungan serupa disuarakan KH Asep Saifuddin Chalim (Ponpes Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto)

Bahkan Kiai Asep terang-terangan mengharapkan kehadiran Khofifah untuk memimpin Jawa Timur. Mengapa harus Khofifah dan para kiai tersebut memilih ‘berseberangan’ dengan ke-21 kiai di PWNU Jatim yang lebih memilih mendukung Saifullah Yusuf?

“Seorang pemimpin itu harus mempunyai sifat yang sebagaimana kita ketahui bersama, empat sifat kepemimpinan yang ada pada diri Rasulullah Saw: Shiddiq, amanah, fathonah dan tabligh,” katanya.

Khofifah, papar Kiai Asep, memenuhi sifat shiddiq karena selalu benar dalam bicara dan berkelanjutan dengan realisasi dari yang dibicarakannya. “Bukan seseorang yang janji dan janji kemudian setiap janjinya pasti bohong,” katanya.

• Baca: Ratusan Ribu Jamaah Manaqib Doakan Khofifah Gubernur

Ketika seseorang sudah memiliki sifat shiddiq, lanjutnya, sudah mesti amanah. “Itu korelasinya kuat sekali, pasti amanah karena sudah bicara shiddiq,” tegas Mustasyar PCNU Kota Surabaya tersebut.

Kemudian tabliqh. Khofifah mampu menyampaikan ide-idenya dengan kalimat yang lugas, jelas dan setiap orang yang mendengar dapat memahami serta merasa dalam dirinya mendapatkan sebuah masukan yang bermanfaat. “Bukan yang isinya hanya guyonan demi guyonan yang tak ada isi di dalam guyonannya,” ujarnya.

Keempat, fathonah. “Tentu kalau bisa tabligh maka dia menunjukkan pribadi yang fathonah. Ini mesti menjadi objek berpikir kita bersama-sama,” tandas putra muassis NU Surabaya, KH Abdul Chalim Leuwimunding tersebut.