23 Kabupaten di Jatim Dilanda Kekeringan, Ini Solusi Khofifah

KHOFIFAH BERSAMA HKTI JATIM: Khofifah Indar Parawansa (kanan) saat acara Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jatim di UIN Sunan Ampel Surabaya, Minggu (19/8). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
KHOFIFAH BERSAMA HKTI JATIM: Khofifah Indar Parawansa (kanan) saat acara HKTI Jatim di UIN Sunan Ampel Surabaya, Minggu (19/8). | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

SURABAYA, Barometerjatim.com – Selain kemiskinan di perdesaan, Gubernur Jatim terpilih, Khofifah Indar Parawansa juga dihadapkan problem lain yang tak kalah berat, yakni kekeringan dan hampir terjadi setiap tahun.

Tahun ini,  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim mencatat ada 442 desa di 23 kabupaten yang ‘bergelut’ dengan kekeringan. Namun Gubernur Jatim, Soekarwo mengaku hanya mampu melakukan pengeboran di 233 desa.

Sementara 199 desa lainnya, menurut Soekarwo, tidak bisa dilakukan pengeboran karena tidak ada sumber air di bawah tanah. Solusi Soekarwo, harus dibuatkan tandon air melalui pengiriman truk tangki air.

• Baca: Jatim ‘Bergelut’ dengan Kekeringan, Sampang Terparah

Meski demikian, Khofifah optimistis pengeboran masih bisa dilakukan di wilayah Jatim yang dilanda kekeringan, karena saat menjabat menteri sosial pernah melakukannya di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan berhasil.

“Saya, kebetulan saat di Kemensos, yang saya lakukan itu di NTT lho. NTT secara topografi wilayah mungkin bisa lebih sulit, tetapi ada pakar dari Bandung yang memungkinkan sampai dengan 2 Km mengambil sumber airnya, kemudian tingkat kemiringannya sampai 80 derajat, itu bisa,” paparnya.

Paparan itu disampaikan Khofifah saat menjawab pertanyaan wartawan terkait solusi kekeringan di Jatim, usai menghadiri Rembuk Tani dan Halal bi Halal DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jatim di UIN Sunan Ampel Surabaya, Minggu (19/8).

• Baca: Dorong Pemuda Bertani, HKTI Bentuk Taruna Tani

Nah, pengeboran dengan jarak dan kemiringan yang hampir mirip dengan di NTT, menurut Khofifah, sedang dilakukan di Kabupaten Sampang yang diharapkan bisa terlihat hasilnya pada Oktober tahun ini.

“Mudah-mudahan nanti akan ketemu. Waktu itu kita pindah-pindah tempat karena di daerah yang sumbernya dekat, kadar kapurnya masih tinggi. Sekarang sudah mengambil sumber yang agak jauh,” katanya.

• Baca: Siapkan Rp 125 M, HKTI Jatim Bangun 25 Ribu RPK

“Mudah-mudahan Oktober ini sudah bisa kita lihat hasilnya, karena dengan jarak yang relatif jauh dan kemiringan relatif terjal itu bisa. Saya waktu Mensos sudah menguji coba itu di NTT,” tambahnya.

Hanya saja, harga aplikasi teknologi bor seperti ini selain susah juga tidak murah, tapi terbukti bisa mengatasi masalah kekurangan air di NTT. “Memang sedikit agak mahal,” tandas perempuan yang juga ketua umum PP Muslimat NU tersebut.

Peta Kebutuhan Petani

SIAPKAN KEBUTUHAN PETANI: Khofifah Indar Parawansa bersama pengurus HKTI Jatim, siapkan peta kebutuhan petani. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN
SIAPKAN KEBUTUHAN PETANI: Khofifah Indar Parawansa bersama pengurus HKTI Jatim, siapkan peta kebutuhan petani. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HASIBUAN

Di sisi lain, Khofifah juga mengajak HKTI untuk bersama-sama menyiapkan peta terkait kebutuhan petani. Mulai dari bibit, kebutuhan pupuk, hingga permasalahan pasokan air yang sering dikeluhkan ketika musim kemarau.

“Air itu menjadi kebutuhan para petani, terutama yang bercocok tanam padi. Ketika membutuhkan air, maka membutuhkan sumur bor, misalnya. Karena itu peta kebutuhan sumur bor untuk bisa mengairi sawah harus detail,” ujar Khofifah.

Selain itu, pendataan juga dilakukan terhadap luasan embung yang ada di Jatim. Dia pun mengapresiasi langkah pihak swasta yang mau membuat tempat penampungan air tersebut dengan luas 40 hektare di daerah Sedayu, Lamongan.

• Baca: Akui Khofifah Pintar, HKTI Beri Gelar “Ibu Petani Jatim”

Baginya, embung tersebut sangat bermanfaat dalam menampung air. Terutama ketika musim penghujan yang seringkali menggenangi sawah petani di daerah aliran Sungai Bengawan Solo.

Untuk itu, ke depan pihaknya berencana menggandeng pihak swasta serta pemerintah kabupaten/kota yang bersedia membangun embung di daerah aliran sungai Bengawan Solo.

• Baca: Petani Kediri Raya: Khofifah-Emil Representasi Pakde Karwo

“Nah sekarang sudah ada referensi dimana swasta terlibatkan sampai 40 hektare (pembuatan embung) di Sedayu. Saya (akan) ajak swasta lain dan Pemkab mumpung sekarang revisi RTRW (rencana tata ruang wilayah) provinsi,” urainya.

Selain mengajak membangun embung, Khofifah juga akan mendata kebutuhan air masyarakat Jatim. Dengan begitu dapat diketahui berapa luasan lahan yang perlu disiapkan.