2 Kali di Tanggal 27, Ketum PBNU Sebut Khofifah Capres 2024-2034

Khofifah menghadiri pembukaan Munas Alim Ulama-Konbes NU. | Foto: Barometerjatim.com/syaiful kusnan
Khofifah menghadiri pembukaan Munas Alim Ulama-Konbes NU. | Foto: Barometerjatim.com/syaiful kusnan

BANJAR, Barometerjatim.com – Dalam satu bulan, dua kali Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj menyebut Ketua Umum PP Muslimat NU yang juga Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa Capres 2024-2034.

Pertama, saat memberikan taushiyah Maulidurrasul pada Harlah ke-73 Muslimat NU di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta yang dihadiri lebih dari 100 ribu lebih jamaah, 27 Januari 2019.

“Yang terhormat, Ketua Umum Muslimat NU, Gubernur Jawa Timur, Calon Presiden RI 2024-2034, Ibu Hj Khofifah Indar Parawasa,” kata Kiai Said di acara yang saat itu juga dihadiri Presiden Jokowi.

Kedua, saat menyampaikan pidato pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu (27/2/2019).

“Rekan-rekan Badan Otonom, Muslimat, ketua umumnya, yang terhormat, Ibu Khofifah Indar Parawansa yang sekarang menjabat Gubernur Jawa Timur, insyaallah Capres ’24-’34,” katanya yang langsung merujuk angka dua periode.

Entah sekadar kebetulan atau menjadi pertanda bahwa Khofifah akan benar-benar maju sebagai Capres 2024-2034, pernyataaan Kiai Said tersebut disampaikan di tanggal yang sama, 27 dan kedua acara juga dihadiri Jokowi.

Dalam pidatonya, Kiai Said juga menyinggung dampak besar Revolusi Industri 4.0 yang bertumpu pada penggunaan masif teknologi informasi komunikasi berbasis internet (internet of things), kecerdasan buatan (artficial intelligent) dan analisis big data.

“Revolusi Industri 4.0 berdampak luas, terutama pada sektor lapangan kerja. Menurut Mckinsey Global Institute, Revolusi Industri 4.0 akan menghilangkan 800 juta lapangan kerja di seluruh dunia hingga tahun 2030 karena diambil-alih oleh robot dan mesin,” katanya.

Khusus di Indonesia, lanjut Kiai Said, akan ada sekitar 3,7 juta lapangan kerja baru yang terbentuk, tetapi ada sekitar 52,6 juta lapangan kerja yang berpotensi hilang akibat revolusi digital.

Ancaman Industri 4.0

Jokowi dan KH Ma'ruf Amin menghadiri pembukaan Munas Alim Ulama-Konbes NU. | Foto: Barometerjatim.com/syaiful kusnan
Jokowi dan KH Ma’ruf Amin menghadiri pembukaan Munas-Konbes NU. | Foto: Barometerjatim.com/syaiful kusnan

Kiai Said menambahkan, bagian dari peluang positif Revolusi Industri 4.0. telah kita rasakan di Indonesia dengan kemudahan-kemudahan transaksi online untuk memenuhi sejumlah hajat hidup masyarakat.

Namun, bagian dari ancaman Revolusi Industri 4.0 adalah tergusurnya sejumlah lapangan pekerjaan di tengah masalah pengangguran dan postur tenaga kerja yang belum bersaing.

Sekitar 60 persen angkatan kerja kita, tambah Kiai Said, adalah lulusan SMP ke bawah. Bagaimana nasib mereka? Dalam revolusi digital, mereka terancam terus menerus menjadi korban pembangunan.

Menurut Kiai Said, sektor pertanian adalah penyumbang terbesar kedua PDB Indonesia. Namun, di sektor tempat bergantung hidup 82 persen rakyat miskin ini, 30 persen adalah petani cangkul yang masih terseok di gelombang Revolusi Industri 1.0.

Karena itu, tandas Kiai Said, NU perlu mengingatkan bahwa manusia dan kemanusiaan harus tetap merupakan dimensi utama dalam pembangunan.

“Tugas pemerintah adalah mengelola peluang positif revolusi digital sekaligus mereduksi, mengantisipasi, dan merekayasa mudharat-mudharatteknologi agar tidak mendehumanisasi pembangunan,” tegasnya.•

» Baca Berita Terkait Khofifah, Muslimat NU