10 Hari PSBB! Sidoarjo-Gresik Lebih Berhasil dari Surabaya

PSBB SIDOARJO: Screening di check point Waru, pintu masuk Kabupaten Sidoarjo. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PSBB SIDOARJO: Screening di check point Waru, pintu masuk Kabupaten Sidoarjo. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

SURABAYA, Barometerjatim.com – Empat hari lagi — sejak diberlakukan mulai 28 April hingga 11 Mei 2020 — penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya Raya berakhir.

Dari evaluasi sepuluh hari berjalan, adakah indikator keberhasilan atau kegagalan PSBB di Kota Surabaya, sebagian Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Gresik tersebut?

Menurut Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jatim, dr Joni Wahyuhadi, melihat data pasien seminggu sebelum PSBB dan seminggu setelahnya, sebenarnya bukan tanpa hasil.

“Kalau kita lihat data lebih detail, sebetulnya tidak jelek-jelek amat, tidak gagal amat kita. Kalau kita lihat dua daerah (Sidoarjo dan Gresik) itu turun,” katanya di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (7/5/2020) malam.

Memang, lanjut Joni, data yang muncul saat ini, baik Pasien Dalam Pengawasan (PDP) maupun terkonfirmasi positif Covid-19, bisa saja infeksinya beberapa minggu yang lalu.

“Kalau kita lihat masa inkubasinya antara 3 sampai 14 hari, memang tidak semua PDP yang muncul sekarang itu masalah sekarang, tapi bisa seminggu sebelum PSBB ditetapkan,” jelasnya.

Hanya saja, kalau melihat penambahan per hari ini harus menjadi perhatian, salah satunya karena penambahan jumlah kematian. Sebab salah satu parameter PSBB yakni penurunan angka kematian kurang dari lima persen.

“Jadi sebetulnya tidak membawa hasil itu juga tidak, karena dua daerah itu, Gresik dan Sidoarjo, turun dan flat. Itu kan artinya ada hasil,” tegasnya.

Terlebih PSBB tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri, tapi harus bareng-bareng bagaimana menggerakkan masyarakat untuk menerapkan physical distancing, hingga menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti memakai masker hingga cuci tangan.

“Mohon maaf ini kajian dari sisi ilmiah ya, ndak ada kaitan dengan sisi politis.”

“Anda lihat sendiri bagaimana di Surabaya. Enggak usah saya cerita ya, he.. he.. Monggo (silakan) dilihat sendiri,” kata dokter yang juga Dirut RSUD dr Soetomo Surabaya tersebut.

“Jadi kalau langsung mengharapkan begini (berhasil), ya rasanya dengan situasi begini, yang kita lihat sehari hari ini di sini (Surabaya) ya ndak mungkin.”

Situasi berbeda dilihatnya di Sidoarjo dan Gresik. Memang kasus positif Covid-19 di kedua wilayah tersebut lebih sedikit, tapi upaya yang lebih kecil dari Surabaya menghasilkan penurunan.

“Kalau di Surabaya naiknya tinggi, upayanya harus jauh lebih tinggi dari Gresik dan Sidoarjo. Jadi mohon maaf ini kajian dari sisi ilmiah ya, ndak ada kaitan dengan sisi politis,” tandasnya.

Merujuk data Gugus Tugas Covid-19 Jatim, per 7 Mei 2020, jumlah kasus positif Corona di Gresik sebanyak 37, Sidoarjo 152, dan Surabaya 592.

PENERAPAN PSBB: Joni Wahyuhadi, Sidoarjo dan Gresik lebih berhasil dari Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS
PENERAPAN PSBB: Joni Wahyuhadi, Sidoarjo dan Gresik lebih berhasil dari Surabaya. | Foto: Barometerjatim.com/ROY HS

» Baca Berita Terkait Wabah Corona